Ujian Hidup sebagai Cara Allah Membersihkan Dosa -->

breaking news

News

Baca di Helo

Ujian Hidup sebagai Cara Allah Membersihkan Dosa

Jumat, Mei 01, 2026



Infokita Investigasi,  YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, mengingatkan bahwa ujian hidup merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan iman setiap manusia.


Dalam ceramahnya di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (23/04/2026), ia menegaskan bahwa ujian bukanlah hukuman dari Allah, melainkan tanda perhatian, cinta, sekaligus jalan untuk menaikkan derajat spiritual seorang hamba.



Di hadapan jamaah, Talqis mengawali dengan refleksi sederhana bahwa setiap orang pasti pernah diuji. Bahkan, tanpa disadari, seseorang juga bisa menjadi ujian bagi orang lain.


“Kita pernah diuji, bahkan kadang kita menjadi ujian bagi orang lain. Kehadiran kita bisa saja membuat orang lain tertekan. Maka ujian itu sangat dekat dengan kehidupan kita,” ujarnya.


Menurutnya, ujian adalah sesuatu yang pada dasarnya tidak diharapkan terjadi oleh manusia. Tidak ada orang yang memilih untuk sakit, kehilangan, kekurangan, atau kesulitan. Namun demikian, ujian tidak selalu hadir dalam bentuk penderitaan. Ada pula ujian yang datang dalam bentuk kenikmatan.


“Ujian itu kadang enak, kadang tidak enak. Kaya itu ujian, miskin juga ujian. Dapat IPK 4 itu ujian, dapat IPK 2,4 yang penting ada angka empatnya juga ujian,” katanya disambut tawa jamaah.


Ia menjelaskan bahwa justru banyak orang gagal ketika diuji dengan kenikmatan. Saat diberikan kelapangan rezeki, wajah yang rupawan, jabatan, atau popularitas, seseorang sering kali tidak mampu menjaga kesabaran dan syukurnya.


“Ketika diuji dengan kesulitan, kita bisa sabar. Tapi ketika diuji dengan kemudahan, justru banyak yang tidak lulus,” jelasnya.


Talqis menegaskan bahwa ujian dalam perspektif iman bukanlah hukuman, melainkan “invitation” atau undangan dari Allah untuk naik kelas secara spiritual.



“Kalau kita diuji, itu bukan berarti Allah menghukum kita. Itu invitation dari Allah, undangan untuk naik level keimanan,” ungkapnya.


Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 155: “Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”


Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa ujian adalah sebuah kepastian. Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa ujian, termasuk para nabi dan rasul.


“Nabi Muhammad diuji, Nabi Ibrahim diuji, Nabi Musa diuji, Nabi Ayub diuji. Apakah mereka hina? Tidak. Justru itu kemuliaan,” katanya.


Talqis menjelaskan lima bentuk ujian yang paling sering menimpa manusia: rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, gangguan pada jiwa atau kesehatan, serta kehilangan hasil atau harapan.


Ia mencontohkan, mahasiswa sering kali tidak menyadari bahwa overthinking, tekanan finansial, tuntutan keluarga, hingga krisis identitas juga merupakan bentuk ujian.



“Ujian itu bukan hanya lembar jawaban di ruang kelas. Kadang ujian itu ekspektasi yang patah, rasa cemas, overthinking, atau perasaan kehilangan arah hidup,” ujarnya.


Dalam menghadapi ujian, ia menyebut ada empat respons manusia. Pertama, marah dan menyalahkan keadaan bahkan menyalahkan Allah. Kedua, sabar. Ketiga, rida. Dan yang tertinggi adalah syukur.


Talqis menjelaskan bahwa sabar bukan sekadar diam, tetapi menahan hati, lisan, dan anggota tubuh dari segala sesuatu yang dimurkai Allah.


“Sabar itu al-imsak, menahan. Menahan hati dari prasangka buruk, menahan lisan dari ucapan buruk, dan menahan anggota tubuh dari perbuatan yang dilarang Allah,” jelasnya.


Sementara rida adalah menerima ujian dengan lapang dada seolah musibah itu tidak menghancurkan dirinya. Adapun syukur adalah level tertinggi, yakni mampu melihat hikmah dan tetap berterima kasih kepada Allah di tengah ujian.


“Orang kehilangan uang seratus ribu lalu berkata Alhamdulillah, karena yang hilang hanya seratus ribu, bukan lima juta. Itu level syukur,” katanya.


Ia mengutip hadis Nabi: “Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.”


Menurutnya, ujian justru menjadi tanda cinta Allah. Kesulitan adalah sinyal bahwa Allah sedang memperhatikan hambanya.


“Kalau ada ujian pada diri kita, berarti Allah sedang memperhatikan kita. Itu bukti cinta Allah,” tegasnya.


Talqis juga mengingatkan bahwa ujian berfungsi sebagai alat untuk membersihkan dosa. Ia mengutip hadis bahwa tidak ada kesedihan, rasa sakit, bahkan duri yang menusuk seorang mukmin kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya karenanya.


“Setiap kali diuji, ada pengguguran dosa. Karena itu orang sakit kita doakan: thahurun insya Allah, semoga menjadi pembersih dosa,” katanya.


Ia mencontohkan kesabaran Nabi Ayub AS yang diuji dengan penyakit bertahun-tahun, kehilangan harta, anak, bahkan harus terusir dari kampung halamannya. Namun Nabi Ayub tetap sabar, tetap beribadah, dan tidak pernah meninggalkan Allah.



“Allah menyebut Nabi Ayub sebagai sebaik-baik hamba karena kesabarannya. Itu teladan besar bagi kita,” ujarnya.


Dalam analogi yang menarik, Talqis mengajak mahasiswa menjadi seperti biji kopi ketika menghadapi ujian. Ia membandingkan tiga benda yang masuk ke air mendidih: wortel, telur, dan kopi.


Wortel yang awalnya keras menjadi lembek ketika direbus. Itu adalah gambaran orang yang hancur karena ujian. Telur yang awalnya rapuh justru menjadi keras. Itu gambaran orang yang hatinya mengeras karena ujian.


Namun kopi berbeda. Ia tidak berubah karena air panas, justru mengubah air itu menjadi harum dan nikmat.


“Minimal jadilah biji kopi. Mahasiswa biji kopi adalah mahasiswa yang menggunakan panasnya ujian untuk mengubah keadaan sekitarnya menjadi lebih baik,” katanya.


Sebagai penutup, ia memberikan tips menghadapi ujian bagi mahasiswa: mengimani takdir Allah, yakin ada hikmah di balik setiap musibah, membandingkan ujian diri dengan ujian para nabi, percaya bahwa semakin kuat iman semakin berat ujian, meyakini bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, memperbanyak sabar dan salat, tidak mengisolasi diri, mencari lingkungan pertemanan yang suportif, mengucapkan istirja’, serta melakukan introspeksi diri.


Ia mengingatkan agar cara pandang terhadap ujian diubah, dari pertanyaan “mengapa ini terjadi padaku?” menjadi “apa yang Allah ingin aku pelajari dari ini?”


“Ujian itu adalah cara Allah mencuci dosa-dosa kita dan mengasah mental kita agar siap menghadapi kehidupan yang lebih besar. Jadi kalau diuji, itu artinya kita sedang dipersiapkan oleh Allah,” pungkasnya. (red)