Infokita Investigasi, JAKARTA, (24 Mei 2026) - Hati yang lalai dari mengingat Allah (zikir) menjadi akar dari matinya spiritual manusia. Rasulullah SAW bersabda, perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan yang tidak berzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.
Tanpa kesadaran ilahiah, manusia sejatinya hanya berjalan dengan raga tanpa ruh.Hakikat Kehidupan Spiritual Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari RA, Nabi SAW menegaskan pentingnya kehadiran zikir dalam keseharian.
Kehidupan hakiki manusia tidak diukur dari detak jantung atau aktivitas fisik semata, melainkan dari sejauh mana hati dan jiwanya terhubung dengan Sang Pencipta.
Bahaya Kelalaian dan Matinya HatiKondisi di mana seseorang melupakan Allah dapat berdampak langsung pada kondisi psikologis dan spiritual seseorang.
Hilangnya Rasa Sesal: Indikator utama matinya hati adalah hilangnya rasa sedih atau penyesalan saat melakukan perbuatan maksiat.
Rumah Bagaikan Kuburan:
Rumah atau lingkungan yang hampa dari lantunan zikir dan ibadah diibaratkan Nabi SAW layaknya kuburan yang mati dan dipenuhi kehampaan.
Kehilangan Arah Moral:
Ruh yang tidak dihidupkan dengan nilai-nilai ketakwaan akan kehilangan kompas moral dan mudah terjerumus dalam kehampaan hidup.
Zikir sebagai Energi KehidupanIbnu Al-Jazari dalam kitab Tuḥfat-udz-Dzākirīn mengutip pandangan ulama bahwa zikir memiliki peran selayaknya air bagi ikan.
Zikir menjadi energi esensial yang membuat hati berfungsi sebagaimana mestinya: menggerakkan nurani, memberikan kelezatan iman, serta menumbuhkan kesadaran.
Untuk menghidupkan kembali hati yang mati dan menjauhkan diri dari status "mayat berjalan", umat Islam dianjurkan untuk senantiasa merutinkan zikir harian dan menjaga koneksi spiritual dengan Allah SWT.
Pembahasan lengkap mengenai hikmah dan keutamaan zikir ini dapat dipelajari lebih lanjut melalui kajian di Rumaysho atau sumber referensi hadis shahih di Hadeeth Enc.
(Reporter : Widi)
