Infokita Investigasi, JAKARTA, Jumat,(9/10/2026) - Jagat seni pertunjukan tradisional kembali dihentak oleh rekaman mahakarya adiluhung dari sang maestro dalang, Ki Manteb Sudarsono, melalui pementasan wayang kulit lakon ‘Anoman Obong’.
Pementasan yang sarat akan nilai filosofi, ketangkasan teknik sabetan, dan dramatisasi lakon ini sukses memikat ribuan pencinta budaya, baik yang menyaksikannya secara langsung maupun melalui tayangan digital.
Lakon 'Anoman Obong' merupakan salah satu fragmen paling dinamis dalam epos Ramayana.
Kisah ini menceritakan perjalanan ksatria kera putih, Anoman, yang diutus oleh Prabu Rama untuk mengintai situasi di Kerajaan Alengka sekaligus memastikan kondisi Dewi Shinta yang diculik oleh Rahwana.
Puncak ketegangan terjadi saat Anoman tertangkap dan dihukum bakar hidup-hidup. Bukannya hangus, Anoman justru menggunakan kobaran api tersebut untuk membumihanguskan istana Alengka sebagai simbol runtuhnya keangkuhan dan kebatilan.
Di tangan Ki Manteb Sudarsono, yang semasa hidupnya dijuluki sebagai "Dalang Setan" karena kecepatan dan keindahan teknik menggerakkan wayang (sabetan), pertunjukan ini menjadi sangat hidup.
Perang antara Anoman melawan prajurit Alengka disajikan dengan ritme yang cepat, dinamis, dan penuh atraksi visual yang memukau. Tidak hanya itu, iringan gending Jawa yang bertenaga turut membangun atmosfer ketegangan yang luar biasa di atas panggung.
"Ki Manteb Sudarsono tidak sekadar mendalang, beliau menghidupkan setiap karakter. Lakon Anoman Obong di tangan beliau menjadi sebuah refleksi bahwa kebenaran dan kesucian jiwa tidak akan pernah bisa hangus oleh api kejahatan," ujar salah satu pengamat budaya yang hadir dalam acara penayangan ulang karya tersebut.
Selain menampilkan aksi laga wayang yang memikat, pementasan ini juga diselingi oleh humor-humor cerdas dan kontekstual dari sesi punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang menyampaikan pesan-pesan moral tentang pentingnya loyalitas, keberanian, dan membela keadilan di masa modern.
Warisan karya seni dari Ki Manteb Sudarsono ini diharapkan dapat terus diapresiasi oleh generasi muda sebagai bukti bahwa wayang kulit adalah warisan budaya tak benda dunia yang tetap relevan, adaptif, dan selalu memukau melintasi zaman.
Tentang Ki Manteb Sudarsono adalah salah satu maestro dalang wayang kulit purwa legendaris asal Karanganyar, Jawa Tengah. Beliau dikenal sebagai pelopor modernisasi pertunjukan wayang dengan memadukan alat musik modern serta teknik sabetan wayang yang revolusioner, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pelestarian budaya Jawa.*(Widi)*




