Infokita Investigasi, Amerika Serikat - John Kenneth White, profesor emeritus di The Catholic University of America, seorang profesor dan analis politik menegaskan pada Senin (23/3/2026) bahwa dukungan politik kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus merosot dan masa kepresidenannya sudah berakhir.
Dalam sebuah opini di The Hill, pria yang juga penulis buku Grand Old Unraveling: The Republican Party, Donald Trump, and the Rise of Authoritarianism, menjelaskan mengapa kepemimpinan Trump telah mencapai batasnya.
White menyoroti janji-janji Trump kepada rakyat Amerika yang kini terbengkalai.
Trump memulai “perang pilihan dengan Iran” di tengah ekonomi yang merosot dan inflasi meningkat, kebijakan imigrasi keras yang mendeportasi orang secara sewenang-wenang, serta anjloknya tingkat persetujuan publik.
“Donald Trump memerintah tanpa persetujuan dari rakyat,” tulis White.
“Sebagian besar survei menunjukkan tingkat persetujuan Trump hanya sekitar 40 persen. Namun di balik angka itu ada kepresidenan yang sedang terpuruk. Dalam penanganan inflasi, biaya hidup, dan imigrasi, isu yang penting bagi pemilih, Trump mendapat skor yang buruk.”
White juga menekankan bahwa citra Trump kini semakin jelas: warga sipil terbunuh oleh aparat imigrasi, anak-anak ditahan dalam kandang, dan tentara pulang dalam kondisi tewas atau terluka dari perang yang dimulai Trump di Timur Tengah.
“Meski masih mendapat dukungan dari pengikut setia, sebagian besar rakyat Amerika telah berbalik menentangnya. Pemilih Hispanik yang sempat mendukung Trump pada 2024 kini meninggalkan Partai Republik, sementara 67 persen independen,kelompok penentu dalam pemilu, tidak menyetujui kinerjanya.”
White memprediksi sisa masa jabatan Trump akan diwarnai pemerintahan tanpa legitimasi publik.
“Selama dua tahun ke depan, Trump masih memiliki kekuasaan sebagai presiden: memveto rancangan undang-undang, mengeluarkan perintah eksekutif, bahkan berperang. Tapi ia akan memerintah tanpa persetujuan rakyat. Seperti kata Abraham Lincoln ‘Sentimen publik adalah segalanya. Dengan sentimen publik, tak ada yang gagal; tanpa itu, tak ada yang berhasil.’”
“Trump tidak bisa memulihkan posisinya. Kepresidenannya sudah berakhir," tambahnya.
Unjuk Rasa Warga Memphis Tolak Kehadiran Trump. Gelombang aksi unjuk rasa terjadi di sejumlah kota di Amerika Serikat. Salah satu di antaranya terjadi saat Trump mengunjungi Memphis pada Senin kemarin.
Tidak semua warga Memphis menyambut kunjungan Presiden Donald Trump pada Senin, maupun operasi Memphis Safe Task Force yang digelar di kota mereka.
Para demonstran, khususnya komunitas imigran, menegaskan bahwa keberadaan task force justru membuat mereka tidak merasa aman. (red)
