TEHERAN - Rekaman video yang diambil dari sebuah kapal sipil di Teluk Oman memperlihatkan dua rudal balistik Iran menghantam fasilitas minyak di pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab. Video tersebut juga menunjukkan upaya militer Uni Emirat Arab menggunakan sistem pertahanan udara MIM-104 Patriot buatan Amerika Serikat untuk mencegat rudal tersebut, namun upaya itu gagal. Senin (16/3/2026)
Seperti dikutip militarywatchmagazine, serangan tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik setelah serangan udara besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Sebagai balasan, Iran menargetkan sejumlah infrastruktur penting di negara-negara Timur Tengah yang dianggap bersekutu dengan Washington.
Fasilitas minyak di kawasan Teluk, termasuk di Uni Emirat Arab, menjadi salah satu sasaran utama.
Dalam rekaman itu terlihat enam rudal pencegat diluncurkan dari sistem Patriot milik militer UEA untuk menghadapi dua rudal balistik Iran.
Namun seluruh upaya pencegatan tersebut gagal menghentikan serangan, meskipun rudal Iran tidak menunjukkan penggunaan manuver kompleks atau teknologi penangkal canggih.
Pemerintah Uni Emirat Arab diketahui memberlakukan sensor ketat terhadap pengambilan dan penyebaran video serangan Iran, bahkan dilaporkan telah menangkap lebih dari 50 orang yang melanggar aturan tersebut.
Namun karena rekaman Fujairah diambil oleh awak kapal yang berada di luar wilayah negara itu, video tersebut tetap beredar dan memberikan gambaran langka mengenai insiden tersebut.
Sistem Patriot pada umumnya dirancang untuk memiliki peluang keberhasilan tinggi dalam menghadapi rudal balistik dengan meluncurkan dua rudal pencegat.
Namun dalam insiden ini, tiga pencegat diluncurkan untuk setiap target, yang menunjukkan kekhawatiran terhadap tingkat keandalan sistem tersebut.
Rekaman serupa sebelumnya juga muncul dari Qatar pada awal konflik, yang memperlihatkan sistem Patriot gagal mencegat target dengan pola peluncuran pencegat yang sama.
Selain isu efektivitas, biaya penggunaan sistem tersebut juga menjadi sorotan.
Setiap rudal pencegat Patriot tipe PAC-3 diperkirakan bernilai sekitar US$4–6 juta, sementara rudal balistik Iran yang digunakan dalam serangan diperkirakan bernilai kurang dari US$400 ribu.
Artinya, satu upaya pencegatan terhadap dua rudal dapat menelan biaya hingga sekitar US$18 juta.
Stok rudal pencegat juga menjadi perhatian. Persediaan sistem Patriot milik militer Amerika Serikat disebut telah menurun drastis setelah konflik dimulai, bahkan dilaporkan tinggal sekitar 25% dari jumlah yang dianggap diperlukan oleh Pentagon.
Di sisi lain, jaringan pertahanan udara regional juga mengalami tekanan setelah sejumlah radar penting dilaporkan hancur akibat serangan Islamic Revolutionary Guard Corps.
Beberapa di antaranya termasuk radar peringatan dini di Qatar serta radar dari sistem pertahanan THAAD di Yordania dan Uni Emirat Arab.
Dengan persediaan rudal pencegat yang terbatas, kerusakan jaringan radar, serta jumlah rudal balistik Iran yang jauh lebih besar, kemampuan sistem pertahanan udara di kawasan Teluk kini dinilai semakin tertekan di tengah konflik yang terus berkembang. (red)
