114 Tahun Tenggelamnya Titanic, Benarkah Kelas Sosial Tentukan Keselamatan? -->

breaking news

News

Baca di Helo

114 Tahun Tenggelamnya Titanic, Benarkah Kelas Sosial Tentukan Keselamatan?

Rabu, April 15, 2026



Infokita Investigasi, JAKARTA —Tepat 114 tahun yang lalu, pada 15 April 1912 pukul 02.20 dini hari, kapal uap RMS Titanic menghilang dari permukaan Samudra Atlantik Utara. Kapal mewah ini tenggelam sekitar 400 mil di sebelah selatan Newfoundland, Kanada, setelah menabrak gunung es dua setengah jam sebelumnya. Rabu,(15/4/2016)


Meskipun dirancang oleh William Pirrie dengan teknologi tercanggih di masanya, kapal yang membawa sekitar 2.200 penumpang dan kru ini tidak mampu bertahan setelah lambungnya robek sepanjang lima kompartemen.



Tragedi ini menelan lebih dari 1.500 korban jiwa, sementara sekitar 700 orang lainnya berhasil selamat melalui sekoci atau diselamatkan oleh kapal Carpathia yang tiba di lokasi satu jam 20 menit setelah Titanic karam.


Sejarah mencatat bahwa mayoritas penyintas adalah wanita dan anak-anak, namun ada pola lain yang lebih dalam dari sekadar jenis kelamin. Kapal yang memiliki panjang 883 kaki ini membawa struktur kelas sosial yang sangat ketat, mulai dari jutawan hingga imigran yang mencari peruntungan di Amerika Serikat.


Data dari penyelidikan resmi menunjukkan adanya kesenjangan yang mencolok dalam angka keselamatan antara penumpang Kelas Satu dan Kelas Tiga.



Apakah keselamatan di atas kapal benar-benar murni ditentukan oleh kebijakan "wanita dan anak-anak terlebih dahulu", atau adakah faktor sistemis yang membuat kelas sosial menjadi penentu hidup dan mati di tengah laut?


Prioritas Sekoci dan Kebijakan yang Tidak Merata :

Penyebab utama tingginya angka kematian adalah kurangnya sekoci yang tersedia. Berdasarkan regulasi British Board of Trade saat itu, jumlah tempat di sekoci ditentukan oleh berat tonase kapal, bukan jumlah penumpang.


Artikel di sumber laman History menyebutkan bahwa Titanic dianggap "tidak bisa tenggelam" karena memiliki 16 kompartemen kedap air.


Namun, dalam jurnal Social and Medicine (1986) berjudul "Social Class and Survival on The S.S. Titanic", Wayne Hall mengungkapkan bahwa 20 sekoci yang dibawa hanya menyediakan tempat bagi 1.178 orang.


Jumlah tersebut hanya mencakup 52% dari total penumpang pada pelayaran perdana, dan hanya 30% jika kapal terisi penuh. (red)