Iran Pamer Kekuatan Rudal dan Drone, AS–Israel Terkejut -->

breaking news

News

Baca di Helo

Iran Pamer Kekuatan Rudal dan Drone, AS–Israel Terkejut

Sabtu, April 04, 2026




Infokita Investigasi, Jakarta -  Iran mengejutkan dunia dengan demonstrasi kekuatan rudal dan drone terhadap Amerika Serikat dan Israel. Kedua negara sebelumnya meyakini dominasi kekuatan udara mereka akan mampu menekan Iran, yang nyaris tidak memiliki angkatan udara konvensional.


Namun, eskalasi serangan udara dari AS dan Israel justru dibalas Iran dengan serangan rudal dan drone dalam jumlah besar. “Iran selama puluhan tahun mempersiapkan perang asimetris dengan rudal dan drone, sementara AS dan Israel sibuk dengan isu senjata nuklir yang tidak nyata,” tulis The New York Times mengutip analis militer John Ismay.



Iran diketahui membangun arsenal rudal balistik dengan teknik inovatif, termasuk menyusun komponen kecil yang mudah diselundupkan dan dirakit kembali. Israel mulai menyadari hal ini setelah perang 12 hari pada Juni 2025, ketika Iran memperbarui proyek rudal balistiknya.


Ismay menjelaskan bahwa rudal balistik Iran memiliki jangkauan hingga 1.240 mil (sekitar 2.000 km) dan mampu melesat dengan kecepatan berkali lipat dari kecepatan suara. Badan Intelijen Pertahanan AS pada 2019 bahkan menyebut Iran memiliki “arsenal rudal balistik terbesar dan paling beragam di Timur Tengah.”


Iran membagi rudalnya dalam kategori jarak dekat (30–190 mil), jarak pendek (190–620 mil), dan jarak menengah (hingga 1.240 mil). Serangan udara AS–Israel terbukti tidak mampu menghancurkan kemampuan peluncuran rudal Iran, sehingga opsi invasi darat sempat dipertimbangkan. Namun, risiko korban besar membuat sejumlah pihak mendorong jalur diplomasi dengan dukungan Pakistan, Turki, dan Arab Saudi.



Iran mempertahankan produksi senjata melalui strategi swasembada, rekayasa balik, penggunaan komponen komersial, pembangunan “kota rudal” bawah tanah, serta jaringan produksi global di Tajikistan, Rusia, Ethiopia, dan Venezuela. Selain itu, Iran membentuk axis of resistance dengan sekutu regional seperti Hizbullah dan Houthi untuk memperluas kemampuan produksi drone dan rudal.


China dan Rusia turut membantu Iran melalui pasokan teknologi, jaringan perdagangan, hingga intelijen satelit. Atlantic Council menyebut ketiganya membentuk “Axis of Evasion” untuk menghindari sanksi Barat.


Dengan kemampuan memproduksi lebih dari 100 rudal per bulan, Iran mengandalkan strategi “biaya rendah, volume tinggi” untuk mengimbangi sistem pertahanan canggih milik AS dan Israel. (red)