Infokita Investigasi, WASHINGTON - Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa jet tempur F-15 milik Amerika Serikat jatuh di wilayah Iran setelah terkena rudal bahu (shoulder-fired missile). Seperti dikutip Nbc News, insiden ini berujung pada operasi penyelamatan dramatis terhadap dua awak pesawat, sekaligus menyoroti kompleksitas konflik yang masih berlangsung. Selasa (7/4/2026)
Trump menyatakan kampanye militer selama enam pekan telah melemahkan kekuatan militer Iran secara signifikan, termasuk menghancurkan sebagian besar armada laut dan udara serta ribuan target strategis. Komando Pusat AS mencatat lebih dari 13.000 target telah diserang dan lebih dari 150 kapal Iran rusak atau hancur.
Meski demikian, ancaman belum sepenuhnya hilang. Melemahnya kekuatan konvensional Iran justru membuka risiko perang asimetris, di mana kelompok kecil atau individu bersenjata tetap mampu memberikan ancaman serius terhadap militer AS.
Trump juga menyoroti pentingnya Selat Hormuz yang kini hampir tertutup oleh Iran. Ia menegaskan bahwa gangguan di jalur vital tersebut bisa dilakukan hanya oleh satu pelaku, menunjukkan tingginya risiko keamanan di kawasan.
Dalam konferensi pers, Trump memaparkan detail penyelamatan kedua awak. Salah satu awak berhasil bertahan di wilayah pegunungan dalam kondisi terluka, sebelum akhirnya ditemukan berkat pelacakan intelijen Central Intelligence Agency (CIA).
Operasi penyelamatan melibatkan lebih dari 20 pesawat militer AS yang terbang rendah dalam misi berisiko tinggi selama hampir 48 jam. Sementara itu, pasukan Iran juga dikerahkan dalam jumlah besar untuk mencari awak yang jatuh.
Untuk mengelabui pihak Iran, CIA menjalankan operasi disinformasi dengan menyebarkan informasi bahwa awak telah lebih dulu diselamatkan. Strategi ini membantu mempercepat proses evakuasi di tengah kondisi yang sangat berbahaya. Meski misi berhasil, insiden ini menegaskan tingginya risiko operasi militer di wilayah Iran.
Militer AS disebut tengah menyiapkan berbagai opsi lanjutan, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk mengamankan fasilitas strategis dan jalur pelayaran.
Trump belum memastikan kapan konflik akan berakhir, namun kembali menekan Iran agar segera mencapai kesepakatan. Ia bahkan mengancam akan melancarkan serangan besar jika tuntutan, termasuk pembukaan Selat Hormuz, tidak dipenuhi.
Di sisi lain, Iran menolak usulan gencatan senjata sementara dan menuntut penghentian perang secara permanen. Serangan terhadap aset udara AS, termasuk pesawat dan drone, menunjukkan bahwa kemampuan pertahanan Iran masih menjadi ancaman nyata di tengah konflik yang terus berlangsung. (red)
