Infokita Investigasi, JAKARTA - Kekaisaran mana yang paling hebat dalam sejarah dunia? Kemungkinan besar Anda akan langsung memikirkan Romawi atau mungkin Mongol. Ternyata, sebenarnya, kekaisaran yang paling kuat sepanjang masa bukanlah salah satu dari itu, melainkan Kekaisaran Persia pertama. Kekaisaran Persia pertama ini dikenal juga sebagai Kekaisaran Akhemeniyah. Salah satu penguasanya yang terkenal adalah Cyrus the Great.Jumat(29/5/2026)
Kekaisaran Akhemeniyah terkenal karena kemurahan hati dan toleransi agamanya. Namun di balik segala kehebatannya, Kekaisaran Persia pertama ini juga punya sisi gelap, menurut sejarawan kuno.
Birokrasi Kompleks Kekaisaran Akhemeniyah :
Masalah dengan memiliki kekaisaran besar adalah sulit untuk memerintah rakyat yang tersebar secara geografis dan beragam etnis dari satu ibu kota yang terpusat. Akibatnya, Cyrus II melembagakan birokrasi hierarkis. Dalam birokrasi itu, berbagai wilayah Kekaisaran Persia dikelola oleh gubernur lokal yang dikenal sebagai satrap.
Satrap hanya diberi kemampuan untuk menangani masalah administrasi. Sementara itu, seorang komandan militer ditempatkan di setiap provinsi untuk menangani masalah militer dan perdamaian.
Pembagian birokrasi ini dimaksudkan untuk mencegah satu pemimpin provinsi mengumpulkan kekayaan. Selain itu, juga untuk mencegah pemimpin memiliki pengaruh yang diperlukan untuk mencoba melakukan pemberontakan terhadap kekaisaran.
Metode ini memiliki manfaat tambahan yaitu membuat wilayah yang ditaklukkan oleh Kekaisaran Persia merasa seolah-olah tidak banyak yang berubah setelah penaklukan. Pasalnya, mereka masih diperintah oleh pemimpin lokal. Semua ini berkontribusi pada stabilitas berkelanjutan Kekaisaran Akhemeniyah.
“Darius I melaporkan daftar satrap Akhemeniyah selama pemerintahannya dalam sebuah dokumen otobiografi: Prasasti Behistun,” tulis Benito Cereno di laman The Grunge.
Menurut Darius, provinsi-provinsi di bawah komandonya termasuk Babilonia, Asyur, Arab Saudi, Mesir, Armenia, Yunani, hingga Media.
Raja Persia Cambyses Mengubah Seorang Pria Menjadi Kursi ;
Sebagian besar informasi yang kita miliki tentang Kekaisaran Akhemeniyah berasal dari penulis non-Persia. Terutama sejarawan Yunani seperti Herodotus, Plutarch, dan Strabo.
Orang Yunani kuno, tentu saja, adalah musuh Persia. Jadi versi peristiwa mereka sering kali harus diterima dengan sedikit keraguan. Misalnya, kekejaman dan kebrutalan legendaris orang Persia yang digambarkan oleh para penulis ini mungkin dilebih-lebihkan.
Namun, Herodotus mengatakan, ketika berbicara tentang budaya Persia, bahwa dosa terburuk yang dapat dilakukan seseorang di mata orang Persia adalah berbohong. Setelah itu, kata mereka, hal terburuk yang dapat Anda lakukan adalah berhutang. Mengapa? Karena seseorang yang berhutang pasti akan berbohong.
Satu kisah yang menyoroti baik dugaan kekejaman maupun penghinaan terhadap ketidakjujuran muncul kemudian dalam History karya Herodotus.
Selama pemerintahan Cambyses II, raja Akhemeniyah kedua, seorang hakim kerajaan yang korup bernama Sisamnes dinyatakan bersalah. Sang hakim rupanya menerima suap dan kemudian mengeluarkan putusan yang tidak jujur. Sebagai hukuman, Cambyses menguliti Sisamnes hidup-hidup. Ia kemudian memerintahkan agar semua kulitnya diubah menjadi kulit yang digunakan untuk melapisi kursi tempat Sisamnes menyampaikan putusannya.
Cambyses kemudian menunjuk putra Sisamnes, Otanes, sebagai hakim baru menggantikan ayahnya. Seakan masih belum puas menjatuhkan hukuman, Cambyses menyuruhnya duduk di kursi yang terbuat dari kulit ayahnya. Hal itu dilakukan sebagai pengingat akan bahaya dan tanggung jawab yang menyertai posisi kerajaannya.
Kekaisaran Persia Memiliki Bentuk Penyiksaan Paling Mengerikan Sepanjang Masa :
Plutarch dalam karyanya Life of Artaxerxes, menyoroti contoh kekejaman Persia yang dipaparkan secara berlebihan. Menurut Plutarch, setelah kematian Darius II, putra sulungnya Artaxerxes ditempatkan di atas takhta. Namun saudaranya Cyrus Muda mencoba melakukan kudeta.
Ketika kedua bersaudara itu bertempur, seorang prajurit biasa bernama Mithridates secara tidak sengaja membunuh Cyrus dengan menusuk matanya. Hal itu dilakukannya tanpa mengetahui bahwa Cyrus adalah pangeran.
Artaxerxes ingin mendapatkan pujian atas pembunuhan calon pewaris takhta muda itu. Ia menghujani Mithridates dengan hadiah dan kehormatan, alasannya adalah bahwa Mithridates membawa perlengkapan kuda raja untuknya. Namun, suatu malam Mithridates mabuk dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu kabar pengkhianatan Mithridates terhadap kepercayaan raja sampai ke Artaxerxes, ia dijatuhi hukuman mati yang begitu brutal sehingga hampir pasti fiktif.
Mithridates dijatuhi hukuman mati dengan cara scaphism, yang oleh Plutarch disebut “penyiksaan perahu”. Korban diletakkan di antara dua perahu dan disegel seperti kepompong perahu. Kepala, tangan, dan kaki korban dibiarkan mencuat. Wajahnya kemudian ditutupi dengan susu dan madu dan dibiarkan terpapar unsur-unsur alam.
Korban dibiarkan membusuk di bawah terik matahari. Sementara itu, lalat dan belatung memakan wajahnya dan serangga melahap tubuhnya saat perahu-perahu dipenuhi kotoran pria itu. Plutarch mengatakan, Mithridates bertahan selama 17 hari. (red)
