Hesti Purwadinata; Pajak Kian Mencekik, Sejumlah Artis Sampaikan Keluhan dan Sindiran -->

breaking news

News

Baca di Helo

Hesti Purwadinata; Pajak Kian Mencekik, Sejumlah Artis Sampaikan Keluhan dan Sindiran

Kamis, November 05, 2026



Infokita Investigasi, Jakarta - Persoalan pajak kembali menjadi perbincangan di media sosial. Kali ini, sejumlah selebriti dan publik figur ikut menyuarakan keresahan mereka terhadap berbagai pungutan pajak yang dinilai semakin membebani masyarakat.


Keluhan tersebut muncul dengan beragam cara. Ada yang menyindir kondisi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah dikenai sejumlah jenis pajak, mempertanyakan kemungkinan pajak atas aktivitas di media sosial, hingga mengkritik program pemerintah yang menggunakan uang dari hasil pajak rakyat.



Hesti Purwadinata, Ussy Sulistiawaty, penulis Boy Candra, hingga fotografer Rio Motret turut menjadi perhatian setelah menyampaikan komentar bernada kritis di media sosial, setelah unggahannya di-capture dan diunggah ulang oleh akun Instagram Lambe Turah.


Di balik komentar-komentar tersebut, terdapat persoalan yang lebih luas, yakni persepsi masyarakat mengenai beban pajak, transparansi penggunaan uang negara, serta kepercayaan terhadap pengelolaan keuangan publik.


Bagi sebagian masyarakat, persoalannya bukan semata-mata kewajiban membayar pajak. Mereka juga ingin memastikan uang yang dikumpulkan negara benar-benar digunakan untuk kepentingan publik dan dikelola secara bertanggung jawab.


Hesti Purwadinata Sindir Beban Pajak Masyarakat Kelas Menengah

Hesti Purwadinata menjadi salah satu publik figur yang menyampaikan kritik mengenai kondisi perpajakan. Melalui unggahannya di media sosial, Hesti menyoroti posisi masyarakat kelas menengah yang menurutnya semakin sulit untuk meningkatkan taraf ekonomi karena berbagai beban yang harus ditanggung.



"Pajak pajak pajak teyus. Warga menengah benar-benar nggak boleh ke atas," tulis Hesti.


Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan terhadap kelompok masyarakat kelas menengah yang kerap merasa berada di posisi sulit. Mereka tidak selalu mendapatkan fasilitas bantuan seperti kelompok berpenghasilan rendah, tapi harus menghadapi berbagai kewajiban pengeluaran dan pajak.


Kondisi ini membuat isu pajak tidak hanya berkaitan dengan kewajiban warga negara, tetapi juga menyentuh persoalan daya beli dan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.(red)