Infokita Investigasi ,JAKARTA - Minggu (1/3/2026), Buto Cakil adalah tokoh raksasa ikonik dalam wayang kulit Jawa, simbol hawa nafsu angkara murka yang lincah, energik, dan ceplas-ceplos. Sering muncul dalam lakon "Perang Kembang" (biasanya di pathet sanga), Cakil selalu bertarung melawan ksatria seperti Arjuna dan tewas tertusuk kerisnya sendiri.
Karakteristik Buto Cakil, wujud raksasa dengan gigi taring bawah panjang menonjol keluar, rahang bawah lebih panjang dari atas.
Mempunyai watak keras, tidak suka diatur, setia kepada raja (menuruti titah), dan sangat energik/tidak bisa diam (pethakilan).
Buto Cakil nama lain Ditya Gendir Penjalin, Gendring Caluring, Klanthangmimis, Kalapraceka, Ditya Kala Plenthong, dan Kala Marica.
Asal usul dalam beberapa kisah, ia digambarkan sebagai wujud hawa nafsu Arjuna atau raksasa hasil perpaduan nafsu angkara.
Kemunculan Buto Cakil sering muncul dalam adegan Perang Kembang di hutan belantara. Ia menghadang satria (umumnya Arjuna) yang baru saja selesai bertapa.
Perang Kembang: Cakil bertarung dengan gaya yang khas, menari-nari, melompat, dan bercanda, namun sangat mematikan. Ia sering ditempatkan di ujung formasi pertempuran.
Kesetiaan Berujung
Meskipun licik, Buto Cakil sangat setia pada rajanya (seringkali Rahwana). Dalam pertempuran melawan Arjuna, Cakil akhirnya tewas, seringkali karena tertusuk kerisnya sendiri—sebuah simbol bahwa hawa nafsu yang tidak dikendalikan akan menghancurkan diri sendiri.
Buto Cakil merupakan simbol melambangkan hawa nafsu manusia yang tidak pernah puas dan selalu bergejolak, yang pada akhirnya dapat ditundukkan oleh ksatria yang menjaga tatanan dunia.
(Reporter : Widi)
