Infokita Investigasi, Írán - Pemerintah Iran dan Amerika Serikat dilaporkan terus melakukan negosiasi, di tengah meningkatnya kekuatan militer AS di Timur Tengah dan tenggat waktu yang diberikan Donald Trump.
Situasi itu membuat sekelompok warga Iran mengaku berada dalam kecemasan dan ketidakpastian. Bercerita kepada BBC, mereka bilang kondisi di Iran kini "bukan perang, bukan damai". Rabu (25/2/2026)
Di antara mereka berkata kalau setiap pagi selalu diselimuti pertanyaan "apakah serangan sudah terjadi atau belum?"
Mereka juga bercerita ada dua skenario jika serangan datang. Di satu sisi, terjadi perang panjang yang menyakitkan warga dan menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas hingga infrastruktur negara.
Di sisi lain, adanya harapan pelonggaran sanksi, jatuhnya rezim Ali Khamenei, dan terciptanya "kehidupan yang normal".
Dan, ketidakpastian yang terjadi saat ini telah membuat banyak kehidupan warga Iran terhenti dan memutuskan berlindung di dalam rumah.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut kondisi "bukan perang, bukan damai" itu sebagai hal yang berbahaya dan merugikan kepentingan nasional.
Di saat yang bersamaan, suasana di Iran masih memanas usai aksi protes besar-besaran pada Januari lalu. Peringatan 40 hari bagi para demonstran yang tewas dilaporkan telah berlangsung.
Sektor ekonomi Iran terus melemah yang menyebabkan kenaikan tinggi harga dan penurunan nilai mata uang.
Sekelompok warga Iran mengirimkan cerita mereka ke BBC tentang kondisi yang terjadi kini di Iran, namun pandangan mereka tak mewakili spektrum luas pandangan publik di seluruh Iran. Setiap nama narasumber dalam laporan ini telah diubah dengan alasan keamanan.
Cerita warga tentang kondisi di Iran :
Reza bekerja sebagai sopir bus di Maku, Iran. Menurut Reza, ketidakpastian yang terjadi saat ini dipicu pemerintah Iran yang hanya ingin memberikan kesepakatan sekecil mungkin, tanpa menyadari terjadinya perubahan di domestik dan internasional.
"Sayangnya, pemimpin Iran tidak bersedia melunak karena merasa hal itu akan merusak citra domestik dan internasionalnya. Di sekitarnya juga tidak ada orang yang berani dan realistis untuk memperingatkan potensi kerusakan perang bagi negara atau bahkan bagi Republik Islam itu sendiri," ujar Reza. (red)
