Infokita Investigasi, Teheran - Iran terdeteksi melalui citra satelit dari Planet Labs dan Airbus telah memosisikan ulang sistem pertahanan udara S-300 dan menyiagakannya di sekitar ibu kota Teheran dan Isfahan.
Tindakan ini dilakukan Iran menjelang potensi serangan udara Amerika Serikat bila negosiasi mengenai nuklir dan pengembangan rudal Iran gagal.
Gambar-gambar tersebut menunjukkan bahwa sebagian dari inventaris pertahanan udara jarak jauh Iran telah muncul kembali setelah berbulan-bulan tidak terlihat selepas serangan Israel pada tahun 2024.
Iran memiliki sejumlah sistem S-300PMU-2, yang diterimanya sekitar tahun 1990-an. Sistem ini termasuk dalam generasi ketiga dari keluarga S-300P yang dirancang untuk melawan pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik.
Rudal yang paling sering digunakan untuk sistem ini adalah Fakel 48N6 dan 48N6E. Dengan panjang sekitar 7,25 meter dan berat sekitar 1.804 kg, rudal pencegat tersebut membawa hulu ledak fragmentasi berdaya ledak tinggi seberat 143 kg.
Seri 48N6 memperkenalkan panduan Track Via Missile, di mana rudal mengirimkan data target kembali ke radar penargetan berbasis darat.
Motor roket baru telah meningkatkan jangkauan penargetannya. Sumber Rusia menyebutkan kisaran jangkauan hingga 150 km dalam beberapa konfigurasi.
Kecepatan tertinggi rudal mencapai 2.100 m/detik, mendekati Mach 6. Interval peluncuran hanya berselang tiga detik.
Di Isfahan, sebuah peluncur yang menyerupai Bavar-373 buatan dalam negeri juga terdeteksi melalui citra satelit.
Sistem pertahanan udara Bavar-373 (yang mirip S-400 Rusia) menggunakan rudal Sayyad-4. Rudal ini dilaporkan mampu mencapai target pada jarak mendekati 200 km dan ketinggian sekitar 27 km.
Kemunculan kembali peluncur S-300 menunjukkan bahwa Iran mempertahankan setidaknya sebagian dari persediaan rudal jarak jauhnya dan menyiagakannya untuk melawan potensi serangan AS. (red)
