Infokita Investigasi, JAKARTA – Serangan menggunakan drone laut atau kapal permukaan tak berawak (Unmanned Surface Vehicle/USV) dilaporkan menargetkan kapal tanker minyak di kawasan Teluk di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Laporan Reuters, Kamis (12/03) menyebutkan setidaknya dua insiden melibatkan drone bermuatan bahan peledak yang menyerang kapal komersial. Taktik ini sebelumnya dikenal digunakan dalam konflik di Laut Hitam.
Insiden pertama terjadi pada 1 Maret, ketika kapal tanker minyak mentah MKD VYOM diserang di perairan sekitar 44 mil laut dari pantai Oman. Serangan tersebut menewaskan satu awak kapal.
Badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan objek tak berawak menabrak lambung kapal berbendera Kepulauan Marshall di atas garis air. Tabrakan itu memicu ledakan dan kebakaran di ruang mesin.
Beberapa hari kemudian, kapal tanker berbendera Bahama, Sonangol Namibe, juga dilaporkan mengalami serangan serupa saat berlabuh di dekat pelabuhan Khor al Zubair, Irak. Seluruh 23 awak kapal dilaporkan selamat.
Rekaman video dari insiden kedua memperlihatkan objek menyerupai kapal cepat tanpa awak bergerak menuju sisi kapal sebelum terjadi ledakan yang memicu asap hitam tebal.
Robert Peters, analis keamanan maritim dari firma Ambrey, menilai ada indikasi keterkaitan Iran dalam serangan terhadap Sonangol Namibe. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengenai pihak yang bertanggung jawab.
Jika keterlibatan Iran terbukti, penggunaan drone laut terhadap kapal komersial akan menjadi perkembangan baru dalam taktik serangan maritim di kawasan tersebut. Metode serupa sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan milisi Houthi di Laut Merah.
Secara teknis, drone laut mampu membawa muatan bahan peledak dalam jumlah besar karena tidak dibatasi oleh kapasitas angkut seperti drone udara. Hal ini membuat kapal komersial menjadi target yang rentan jika sistem pengamanan tidak memadai.
Insiden tersebut terjadi di tengah kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Gangguan terhadap rute tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi global dan meningkatkan volatilitas harga minyak di pasar internasional. (red)
