Raden Seta :" Ksatria gagah berani, jujur, tidak kenal takut dan rela berkorban demi kebenaran" -->

breaking news

News

Baca di Helo

Raden Seta :" Ksatria gagah berani, jujur, tidak kenal takut dan rela berkorban demi kebenaran"

Wednesday, March 04, 2026



Infokita Investigasi, JAKARTA - Rabu (4/3/2026) Raden Seto (sering disebut Arya Seta atau Arya Seto) adalah salah satu tokoh pewayangan Jawa yang berasal dari kisah Mahabharata, khususnya dalam konteks perang Bharatayudha. Ia dikenal sebagai sosok ksatria gagah berani dari Kerajaan Wirata yang menjadi salah satu senopati Pandawa pada awal perang besar tersebut. 


Asal usul dan keluarga orang tua Seto adalah putra sulung dari Prabu Matswapati (Raja Wirata) dan Dewi Ni Yustinawati (Rekatawati). Ia merupakan kakak dari Arya Utara, Arya Wratsangka, dan Dewi Utari (istri Abimanyu).



Latar Belakang: Kerajaan Wirata adalah tempat Pandawa menyamar selama satu tahun dalam masa pembuangan mereka. Seto sangat menghormati para Pandawa, terutama Bima dan Arjuna. 


Sifat dan kemampuan dan watak  Seto digambarkan sebagai sosok yang jujur, berani, tidak kenal takut, setia, dan rela berkorban demi kebenaran (Pandawa).


Ia memiliki kesaktiqn  ajian yang sangat hebat bernama Narataka (Narantaka) yang mampu menghancurkan musuh dalam jumlah besar. Senjata andalannya adalah gada pusaka yang disebut Kyai Pecatnyawa. 


Dalam kisah Bharatayudha, Seto ditunjuk sebagai senopati tertinggi Pandawa pada hari-hari pertama pertempuran karena keberanian dan kesaktiannya yang luar biasa.


 Di awal perang, Seto mengamuk di pasukan Kurawa. Banyak tentara Kurawa yang tewas akibat gada Kyai Pecatnyawa dan ajian Narantaka. Keberaniannya membuat barisan Kurawa kocar-kacir.


Kehebatan Seto memaksa Bhisma, senopati agung Kurawa yang tak tertandingi, turun tangan langsung.



Meskipun sakti, Seto akhirnya gugur di tangan Bhisma. Dalam beberapa versi pewayangan, Bhisma terpaksa menggunakan senjata sakti untuk menghentikan keganasan Seto.


Seto gugur sebagai pahlawan yang membuka jalan bagi Pandawa, dan kematiannya menandai dimulainya gugurnya ksatria-ksatria besar di perang Bharatayudha. 


Seto adalah contoh ksatria yang gugur muda namun meninggalkan jasa besar. Gugurnya Seto, diikuti oleh saudara-saudaranya (Utara dan Wratsangka) dalam pertempuran yang sama, menjadi duka mendalam bagi Kerajaan Wirata dan Pandawa, namun semangatnya tetap dikenang sebagai pembela kebenaran.

(Reporter : Widi)