Infokita Investigasi, JAKARTA - Senin (2/3/3026), Semar adalah tokoh pewayangan Jawa, dewa yang turun ke bumi (Marcapada) sebagai pamong (pengasuh) ksatria berwatak baik seperti Pandawa. Berwujud unik—perut buncit, mata sembab, senyum ramah, Ia simbol kebijaksanaan, rakyat kecil, dan "guru sejati" yang meredakan ketegangan dengan humor serta nasihat spiritual.
Asal usul dan kisah Semar adalah Titisan Dewa : Semar adalah penjelmaan Sang Hyang Ismaya, putra Sang Hyang Tunggal dari perkawinannya dengan Dewi Rekotowati. Ia adalah saudara dari Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru) dan Sang Hyang Antaga (Togog).
Menelan Gunung : Ismaya dan Antaga berselisih untuk menguasai Kayangan, lalu ditantang menelan gunung oleh Sang Hyang Tunggal. Ismaya berhasil, namun wujudnya berubah menjadi gemuk bulat dan tidak bisa kembali ke wujud aslinya, sehingga diturunkan ke bumi.
Di bumi, ia dikenal sebagai Semar Badranaya. Ia mengabdi kepada keturunan Resi Manumayasa (leluhur Pandawa). Semar mengasuh Pandawa dengan tulus, menjadikannya penasihat utama yang sangat dihormati meskipun berpenampilan rakyat jelata.
Wajah tua namun kuncung rambut anak kecil melambangkan kesatuan kedewasaan dan kerendahan hati. Mata yang sembab melambangkan kesedihan/sukacita (kehidupan manusia), dan tangan yang menunjuk simbol petunjuk kebenaran.
Meskipun terlihat lemah, Semar memiliki delapan daya (Mustika Manik Astagna), seperti tidak pernah lapar, sakit, maupun bersedih, serta digambarkan mampu mengalahkan Batara Guru jika moralitas terancam.
Semar adalah pimpinan Punakawan, ditemani anak-anaknya: Gareng, Petruk, dan Bagong.
Semar bukan sekadar pelawak dalam wayang kulit, melainkan perwujudan dari Manunggaling Kawula Gusti (kesatuan hamba dan Tuhan) serta lambang kebijaksanaan Jawa yang membumi.
(Reporter : Widi)
