Infokita Investigasi, JAKARTA - Rupiah kembali berada dalam tekanan menghadapi dolar Amerika Serikat (AS). Dolar AS (USD) menguat 0,66% ke level Rp17.324 setelah bergerak di kisaran harian Rp17.215 hingga Rp17.337.
Pergerakan ini membawa rupiah mendekati titik terlemah sepanjang sejarah, di tengah kuatnya permintaan aset safe haven dolar AS, tingginya harga minyak global, serta sikap hati-hati pasar menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve, mengutip dari FXStreet.
Berdasarkan acuan Bank Indonesia (BI) per 29 April, Kurs Transaksi BI mencatat kurs jual dolar AS di Rp17.331,22 dan kurs beli di Rp17.158,78.
Sementara itu, JISDOR pada 28 April berada di level Rp17.245, sedikit naik dibandingkan Rp17.227 pada 27 April.
Ahli Strategi OCBC Sim Moh Siong dan Christopher Wong menilai pelemahan rupiah masih dipicu ketidakpastian eksternal, terutama risiko konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran serta tingginya sensitivitas Indonesia terhadap gejolak harga energi.
Meski USD/IDR sempat terkoreksi mengikuti pelemahan dolar AS secara global, tingginya harga minyak membuat peluang pemulihan rupiah masih terbatas.
OCBC melihat potensi penguatan rupiah jika tensi geopolitik mereda dan harga minyak mulai turun.
Dalam jangka pendek, level support USD/IDR diperkirakan berada di 17.100-16.960, yang bertepatan dengan Moving Average (MA) 21 dan MA50, dengan resistance terdekat berada di 17.250 dan 17.315.
Tekanan tambahan datang dari situasi Selat Hormuz, setelah Iran menawarkan pembukaan kembali jalur tersebut dengan syarat AS mencabut blokade dan menghentikan perang.
Namun, Washington belum menerima proposal itu karena isu nuklir belum menjadi bagian utama dari kesepakatan.
Kekhawatiran pasar juga tetap tinggi setelah muncul laporan bahwa AS berpotensi memperpanjang blokade terhadap Iran, sehingga ancaman terhadap pasokan energi global belum mereda.
Selain itu, faktor harga minyak juga turut membatasi ruang pemulihan rupiah, karena lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi impor, kebutuhan dolar AS untuk pembelian energi, serta beban subsidi pemerintah.
Data Trading Economics pada pukul 06:37 GMT menunjukkan harga WTI naik 0,43% menjadi US$100,36 per barel, sedangkan Brent menguat 0,84% ke US$112,20 per barel. (red)
