Infokita Investigasi, Jakarta - Memasuki pertengahan bulan Juni, perhatian masyarakat mulai tertuju pada momen pergantian tahun baru dalam dua penanggalan spiritual yang besar di Indonesia, yakni kalender Hijriah dan kalender Jawa. (15/6/2026)
Namun, hingga saat ini masih banyak warga yang berasumsi bahwa malam 1 Suro dan malam 1 Muharam selalu tiba pada tanggal masehi yang persis sama.
Bagi yang berencana mengikuti rangkaian ritual adat atau memperbanyak ibadah keagamaan, penting untuk mencermati kalender resmi.
Berdasarkan data dari otoritas terkait, berikut waktu dimulainya malam 1 Suro 2026 dan malam 1 Muharam 1448 H.
Baik penanggalan Jawa maupun Hijriah, keduanya menganut sistem pergantian hari berdasarkan perputaran bulan (lunar system).
Artinya, sebuah hari baru tidak dimulai pada tengah malam pukul 00.00 seperti kalender Masehi, melainkan terhitung sejak matahari terbenam (waktu magrib) di hari sebelumnya.
Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan resmi oleh Kementerian Agama (Kemenag) serta ketetapan draf Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) oleh Muhammadiyah, berikut adalah rincian jadwal pergantian tahun tersebut:
*1. 1 Muharam 1448 Hijriah !*
Hari pertama bulan Muharam ditetapkan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.
Berdasarkan aturan pergantian hari, maka Malam 1 Muharam 1448 H dimulai sejak matahari terbenam pada Senin malam, 15 Juni 2026.
*2. 1 Suro 1960 Ba' (Tahun Jawa):*
Dalam kalender tahun 2026, tanggal 1 Suro bertepatan dengan hari Selasa, 16 Juni 2026.
Berhubung kebudayaan Jawa menetapkan mula pergantian hari sejak matahari tenggelam di hari sebelumnya, perayaan Malam 1 Suro sudah bergulir sejak Senin malam, 15 Juni 2026.
*Mengapa Suro dan Muharam Memiliki Keterikatan?*
Suro merupakan penyebutan lokal masyarakat Jawa untuk menamai bulan Muharam.
Hubungan erat ini lahir berkat akulturasi budaya yang digagas oleh raja agung Kesultanan Mataram Islam, Sultan Agung, pada tahun 1633 Masehi (1042 Hijriah/1555 Saka).
Sultan Agung menciptakan terobosan hukum dengan memadukan tarikh Saka (Hindu) dan tarikh Hijriah (Islam) menjadi Kalender Jawa-Islam.
Langkah integrasi ini diambil agar seluruh perayaan upacara adat keraton bisa berjalan selaras waktu pengerjaannya dengan hari besar keagamaan seluruh umat Islam di tanah air.
*Perbedaan Esensi Makna Kebudayaan dan Ibadah ;*
Meski silsilah penanggalannya yang sama, ragam aktivitas masyarakat dalam menyambut kedua pergantian tahun ini memiliki karakteristik ekspresi yang berbeda:
*Esensi Bulan Muharam (Perspektif Islam):*
Bagi umat muslim, Muharam dijuluki sebagai Syahrullah (Bulan Allah) yang masuk dalam kelompok Asyhurul Hurum atau empat bulan suci yang diharamkan untuk bertikai.
Masyarakat jamak mengisi masa awal tahun baru dengan menggelar tabligh akbar, pengajian, serta draf santunan anak yatim.
Selain itu, umat Islam draf disunahkan memperbanyak amalan salih seperti zikir dan puasa sunah Asyura pada tanggal 10 Muharam guna melebur dos setahun yang lalu.
*Esensi Bulan Suro (Perspektif Tradisi Jawa) ;*
Bagi lingkaran masyarakat Jawa, bulan Suro dipandang sebagai waktu yang sakral dan penuh nuansa spiritual.
Pergantian malam 1 Suro kerap dimanfaatkan oleh lembaga adat seperti Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Yogyakarta untuk menyelenggarakan kirab agung.
Ritual yang biasa dijalankan antara lain mengarak bendawi pusaka pusaka keraton, kirab Kebo Bule (di Solo), melakukan ritual tapa bisu (berjalan draf tanpa draf berbicara) mengelilingi benteng keraton, hingga prosesi pembersihan senjata tradisional (jamasan pusaka). (red)
