Infokita Investigasi, Jakarta - Di tengah memanasnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) Iran, dan Israel, seorang anggota Kongres AS dari Partai Republik melontarkan pernyataan yang memicu perdebatan. Ia menilai kunci perdamaian di Timur Tengah justru berada di tangan Washington sendiri, yakni dengan menghentikan bantuan kepada Israel.
Anggota DPR AS dari Partai Republik, Thomas Massie secara terbuka mengkritik dukungan finansial Amerika Serikat kepada Israel. Menurutnya, berbagai upaya diplomasi yang dilakukan Presiden Donald Trump tidak akan menghasilkan perdamaian selama bantuan tersebut terus mengalir.
"Semua itu hanya omongan. Tahan saja bantuan luar negeri untuk Israel selama satu bulan dan mereka akan berhenti membombardir negara-negara tetangganya. Perdamaian langsung tercipta, Selat Hormuz bisa dibuka kembali, dan harga bensin turun dua dolar per galon," tulis Massie melalui media sosial di X, dikutip Rabu (3/6/2026).
Pernyataan itu muncul saat ketegangan antara Gedung Putih dan pemerintah Israel semakin terlihat ke publik. Massie bahkan menyebut Israel sebagai salah satu penerima bantuan terbesar dari uang pajak rakyat Amerika Serikat.
Menurut dia, pengaruh Washington terhadap kebijakan keamanan Israel sebenarnya sangat besar. Karena itu, penghentian bantuan dianggap dapat menjadi instrumen paling efektif untuk menghentikan eskalasi konflik yang saat ini melibatkan Lebanon, Iran, dan berbagai aktor regional lainnya.
Komentar Massie muncul tidak lama setelah laporan mengenai percakapan panas antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Dalam laporan yang beredar di media Amerika Serikat, Trump disebut marah terhadap keputusan Israel memperluas operasi militernya di Lebanon. Langkah tersebut dinilai berisiko menggagalkan upaya diplomatik Washington yang sedang berusaha mencapai kesepakatan dengan Iran.
Trump dikabarkan menilai eskalasi militer Israel justru memperumit negosiasi yang tengah berjalan dengan Teheran. Bagi pemerintahan AS, tercapainya kesepakatan dengan Iran menjadi salah satu target strategis untuk meredakan konflik kawasan dan menjaga stabilitas jalur energi global.
Kemarahan Trump juga disebut dipicu oleh tingginya korban sipil akibat operasi militer Israel di Lebanon. Sejumlah pejabat AS mengungkapkan bahwa Washington mulai khawatir tindakan Israel akan semakin mengisolasi negara tersebut di mata dunia internasional.
Di sisi lain, Massie memandang akar persoalan bukan berada pada diplomasi atau perundingan baru, melainkan pada kebijakan bantuan Amerika Serikat kepada Israel yang selama ini terus berlanjut.
Menurutnya, penghentian bantuan tersebut tidak hanya berpotensi menghentikan konflik, tetapi juga membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia.
Pernyataan Massie menunjukkan munculnya suara kritis dari dalam politik Amerika Serikat sendiri terkait hubungan Washington dan Tel Aviv. Kritik tersebut juga mencerminkan meningkatnya perdebatan mengenai sejauh mana dukungan AS terhadap Israel berdampak terhadap stabilitas kawasan dan peluang tercapainya perdamaian dengan Iran.
Meski demikian, hingga saat ini pemerintah Amerika Serikat belum menunjukkan tanda-tanda akan mengubah kebijakan bantuan militernya kepada Israel. Pemerintahan Trump juga tetap menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan sekutu utamanya di Timur Tengah tersebut, sembari melanjutkan upaya negosiasi dengan Iran. (red)
