
Bajingan ojo ngguya ngguyu, iku sing gundul. Wanine karo arek cilik. Ayo rene lek wani. (Bajingan jangan ketawa-ketawa, itu yang gundul. Beraninya sama anak kecil, ayo ke sini kalau berani).
INFOKITA - (8/11/2019) Malang, Tlogowaru. Masyarakat Tlogowaru Indah dan sekitarnya tak bisa menahan amarah ketika melihat kedatangan Ery Age Anwar, 36, pelaku pembunuhan Agnes Arnelita, tiga tahun, di rumah nomor D14, Tlogowaru Indah, Kedungkandang, Kamis (7/11) siang. Sumpah serapah, teriakan dan kutukan pun meluncur dari bibir massa di belakang garis polisi.
Kemarahan ini diarahkan kepada tersangka yang dikawal ketat kepolisian. “Bajingan ojo ngguya ngguyu, iku sing gundul. Wanine karo arek cilik. Ayo rene lek wani. (Bajingan jangan ketawa-ketawa, itu yang gundul. Beraninya sama anak kecil, ayo ke sini kalau berani),” teriak ibu-ibu perumahan.
Mobil patroli yang memboyong bapak tiri dari korban itu, datang sekitar pukul 14.00 WIB. Masyarakat berkerumun di kawasan ini sejak pukul 13.00 WIB. Selama kurang lebih setengah jam, rekonstruksi berjalan di bawah komando Kapolres Makota AKBP Dony Alexander.
Sebagian warga marah, ada pula yang penasaran. Komariyah, warga Kedungkandang, mengaku sampai bolos kerja demi melihat sendiri sosok bapak tiri yang selama ini dia pikir hanya ada di televisi dan sinetron. “Saya sampai bolos kerja, ingin lihat wajahnya. Kalau boleh lempar, sudah saya lempar kepalanya,” ujar Komariyah penuh emosi.
Setelah menjalani rekonstruksi, para petugas mengawal tersangka menuju RS Refa Husada untuk melengkapkan rekonstruksi. Sepanjang rekonstruksi, wajah tersangka datar, tidak menunjukkan ada kesedihan. Mungkin karena datarnya wajah tersangka, masyarakat menjadi emosi.
Kapolres Malang Kota, AKBP Dony Alexander menegaskan ada 20 adegan dalam rekonstruksi penganiayaan Agnes Arnelita, 3, oleh ayah tirinya, Ery Age Anwar, 36. Dony menyebut, di dalam rumah Tlogowaru Indah D14, adegan terjadi di empat ruangan yaitu, ruang keluarga, kamar mandi, kamar tersangka dan dapur.
“Ada 20 adegan, mulai dari saat korban buang air di celana di ruang tengah, diguyur di kamar mandi lalu dilakukan penganiayaan, lalu diolesi minyak telon di dalam kamar, terakhir dipanggang di atas kompor di dapur,” jelas Dony kepada wartawan, Kamis sore. Setelah melakukan adegan di rumah, tersangka dibawa polisi ke RS Refa Husada.
Dalam adegan di rumah sakit, tersangka menggambarkan prosesnya menyerahkan tubuh korban yang sudah penuh luka, kepada perawat. Setelah itu, tak lama, korban dinyatakan meninggal dan tidak tertolong. Menurut Dony, ada satu perbedaan dalam keterangan dari tersangka dan rekonstruksi penganiayaan ini.
“Saat interogasi di ruang penyidik, dia menyebut korban diinjak di punggung terlebih dahulu. Tapi, saat rekonstruksi langsung, tersangka menyebut korban terjatuh terlentang lalu diinjak perutnya sebanyak satu kali, lalu diinjak dua kali di punggung saat korban tengkurap,” tambah perwira polisi dengan pangkat dua melati emas di pundaknya ini.
(*/wd)