BERITA VIDEO

 
DESKRIPSI GAMBAR
Ruang Transit Intensif RSUD Dr Iskak Tulungagug

Ruang Transit Intensif RSUD Dr Iskak Tulungagug

INFO  INVESTIGASI,  Tulungagung- Sejumlah tenaga kesehatan (nakes) terlihat sibuk bekerja di sebuah ruang yang memiliki dinding-dinding kaca. Sementara di seberang ruang aktivitas kerja mereka, nampak jelas sejumlah pasien yang dirawat di dalam bilik-bilik berpenyekat transparan. Sebagian besar (pasien) memakai ventilator. Alat bantu pernafasan untuk pasien emergency.

Dari ruang kerjanya itu, tim perawat sibuk bekerja mengisi dan membenahi administrasi, mengolah data di komputer dan ada pula yang mempersiapkan obat serta sejumlah sarana pendukung layanan medis guna penanganan rutin. Itulah cuplikan suasana yang menggambarkan keseharian aktivitas nakes di Ruang Transit Intensif (RIT) RSUD dr. Iskak. Salah satu ruang khusus yang disediakan manajemen rumah sakit daerah itu untuk merawat pasien COVID-19 dengan kondisi emergency.

Itulah cuplikan suasana yang menggambarkan keseharian aktivitas nakes di Ruang Transit Intensif (RIT) RSUD dr. Iskak. Salah satu ruang khusus yang disediakan manajemen rumah sakit daerah itu untuk merawat pasien COVID-19 dengan kondisi emergency.

Kepala Ruang Transit Intensif  RSUD dr. Iskak, Roshy Damayanti S. Kep. Ns.,M.Kep. menjelaskan, ruang RTI ini didesain dengan bentuk kamar yang memiliki dinding kaca dengan bertekanan udara negatif. Ruang Transit Intensif memilki sembilan kamar.

”Kamar RTI dengan tekanan udara negatif digunakan untuk pasien infeksi yang penularannya bisa lewat udara, kontak erat, dan droplet atau percikan,” terang Roshy.

Dengan  adanya tekanan udara negatif tersebut, maka udara di kamar pasien yang mungkin mengandung kuman penyebab infeksi bisa tersedot oleh filter yang ada di kamar RTI.

”Hal itu bertujuan meminimalisir penularan infeksi kepada para nakes” kata Roshy.

Petugas nakes menempati ruang yang berada di tengah kamar-kamar yang membentuk huruf U, dengan tekanan udara positif. Perbedaan tekanan udara antara di bilik kamar perawatan pasien dengan ruang kerja ini membuat nakes aman dari risiko paparan virus COVID-19. Kendatipun nakes tak memakai APD (alat pelindung diri).

”(Tapi) Petugas yang masuk ke kamar pasien tentunya wajib memakai APD, karena di sana tekanan udaranya berbeda dengan di ruang petugas,” terang Rosy.

Penanganan pasien COVID-19 di RSUD dr. Iskak memang menjadi prioritas di era pandemi ini. Komitmen itu ditunjukkan, salah satunya dengan penyediaan Ruang Transit Intensif (RIT) yang telah diresmikan dan beroperasi sejak akhir Februari 2021.

"Ruangan ini dahuluya HCU (High Care Unit) yang berada di lantai dua gedung IGD (Intalasi Gawat Darurat) RSUD dr. Iskak,” kata Roshy.

Alur masuk pasien di RTI, yakni melalui screening kesehatan dan tes usap PCR (polymerase chain reaction) di IGD terlebih dahulu.

Tes usap PCR ini baru bisa keluar hasilnya maksimal tiga hari, jadi pasien dengan kegawatdaruatan dibawa ke RTI sembari menunggu hasil tes.

Apabila hasil tesnya positif, maka pasien dibawa ke ruang isolasi intensif. Hal ini dilakukan sesuai nama ruang ini, yakni ruang transit sehingga pasien hanya sementara saja dirawat di sini.

”Sebelum dipindahkan, kami melihat dengan rinci kondisi pasien agar hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kejadian meninggal dunia di tengah perjalanan perpindahan terjadi,” papar Roshy yang telah bekerja di RSUD dr. Iskak sejak tahun 2010 ini.

Selanjutnya, Roshy menjelaskan, sejumlah fasilitas di dalam RTI selain dilengkapi tekanan udara negatif dan positif.

"Fasilitas yang ada di setiap kamar seperti ventilator yang canggih, lalu setiap bed terdapat CCTV yang bisa merekam suara pasien,” kata Roshy.

Pemantauan dari CCTV ini disebut juga telemedicine, bertujuan memantau pasien saat terjadi pergantian nakes. Biasanya proses monitoring bisa dilakukan manual dengan nakes memakai APD level 3

”Masalahnya, tidak semua pasien bisa berbicara dengan lancar. Misalnya saat meminta pertolongan dengan terlalu banyak gerak, sehingga nakes bisa melakukan respon yang cepat dari rekaman CCTV,” terangnya.

Dokter yang bertugas adalah dokter spesialis, misalnya pasien terkonfirmasi COVID-19,  dokter spesialis paru ikut menangani.

Rosy mengatakan, tidak pernah ada ruangan RTI yang kosong hingga dua hari, karena kebutuhan rumah sakit meningkat.

Rentan usia yang dirawat di RIT, Rosy mengatakan bervariasi. Kalau dilihat dari angka yang rinci, paling banyak 40 tahun ke atas, kebanyakan disertai penyakit bawaan atau komorbid.

”Rata-rata pasien dirawat di sini kurang dari tiga hari, kami juga mengatur flow pasien di IGD agar tidak menumpuk,” terangnya.

Sementara itu, RTI juga melayani pasien telah menjalani operasi emergency. Misalnya pasien akibat kecelakaan harus dioperasi dengan segera. Pasien tersebut belum di tes usap, karena mengejar waktu agar pasien terselamatkan dengan tindakan operasi. ”Setelah selesai operasi, pasien ditempatkan di RTI sembari dites usap dan masa pemulihan paska operasi,” pungkasnya. (gandhi)