Infokita Investigasi, Jakarta - Di tengah perang dengan Iran, Israel juga terlibat aksi saling serang dengan kelompok bersenjata Hizbullah di Lebanon. Ketegangan ini membuat ribuan warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari tempat yang lebih aman.
Menurut laporan pemerintah dan badan pengungsi PBB UNHCR, lebih dari 84.000 warga Lebanon kini berlindung di hampir 400 lokasi penampungan, sedangkan sekitar 30.000 orang lainnya melarikan diri ke negara tetangga, Suriah. Sejauh ini konflik tersebut telah menyebabkan setidaknya 123 orang tewas di Lebanon.
Kenapa Israel Serang Lebanon di Tengah Perang dengan Iran?
Ketegangan di antara dua negara ini meningkat ketika Hizbullah meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel pada 2 Maret 2026.
Mereka mengklaim jika serangan tersebut adalah balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Serangan ini merupakan serangan pertama Hizbullah ke Israel dalam lebih dari satu tahun.
Sebagai balasan, Israel melakukan serangan udara besar-besaran ke wilayah selatan Lebanon dan pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai wilayah kuat Hizbullah.
Militer Israel menyatakan telah melakukan 26 gelombang serangan udara dalam satu malam, menargetkan pusat komando dan gudang senjata Hizbullah. Israel juga memperingatkan warga di beberapa distrik di Beirut untuk mengungsi ke wilayah lain karena daerah tersebut akan menjadi target serangan.
Dilaporkan The Independent pada 6 Maret 2026, Israel menyatakan bahwa tujuan serangan ini adalah untuk melemahkan kekuatan militer Hizbullah dan menargetkan pemimpinnya, Naim Qassem.
Hizbullah sendiri adalah kelompok militan yang didirikan pada tahun 1982 setelah perang Lebanon dan memiliki hubungan kuat dengan Iran.
Kelompok ini secara terbuka menyatakan tujuan untuk melawan dan mengakhiri keberadaan negara Israel, sehingga hubungan antara kedua pihak sudah lama penuh konflik. Selama puluhan tahun terakhir, Israel dan Hizbullah sering saling menyerang, terutama di wilayah perbatasan Lebanon–Israel.
Konflik terbaru ini juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa sebelumnya, seperti serangan besar Hamas terhadap Israel pada tahun 2023 yang memicu ketegangan baru.
Setelah itu, Hizbullah juga meluncurkan roket ke wilayah yang dikuasai Israel di Shebaa Farms, sehingga Israel membalas dengan serangan drone, artileri, dan serangan udara di Lebanon dan Suriah.
Serangan Israel di Lebanon, Pada tahun 2024 bahkan terjadi operasi rahasia Israel yang menargetkan sistem komunikasi Hizbullah dan menyebabkan beberapa pemimpin penting kelompok tersebut, termasuk Hassan Nasrallah, terbunuh. Meskipun sempat tercapai gencatan senjata pada November 2024, situasi tetap rapuh dan akhirnya kembali memanas.
Pemerintah Lebanon sendiri menuduh Hizbullah menyeret negara tersebut ke dalam perang regional, terutama setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran yang kemudian dibalas Iran dengan serangan drone dan rudal ke berbagai wilayah.
Namun Hizbullah membantah hal tersebut dan mengatakan bahwa serangan mereka adalah balasan atas berbagai pelanggaran dan serangan sebelumnya, termasuk kematian pemimpin Iran. Akibatnya, konflik ini berpotensi semakin meluas karena melibatkan banyak pihak di kawasan Timur Tengah.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan yang dilakukan oleh Hizbullah maupun serangan balasan dari Israel. Ia menilai kedua tindakan tersebut berisiko memperbesar perang dan membahayakan rakyat Lebanon.
Setelah rapat kabinet, Perdana Menteri Nawaf Salam menyatakan pada 2 Maret 2026 bahwa pemerintah melarang semua aktivitas militer Hizbullah yang dilakukan dari wilayah Lebanon.
Pemerintah menegaskan bahwa keputusan untuk berperang atau berdamai hanya boleh diambil oleh negara melalui institusi resmi, bukan oleh kelompok bersenjata di luar kendali pemerintah.
“(Keputusan ini) mengharuskan pelarangan segera terhadap semua kegiatan keamanan dan militer Hizbullah karena berada di luar hukum, dan mewajibkannya untuk menyerahkan senjatanya kepada negara Lebanon," jelas PM Nawaf Salam, dikutip Aljazeera, Senin (2/3/2026).
(red)
