Infokita Investigasi, JAKARTA - Raden Werkudara, yang juga dikenal sebagai Bima, Sena, atau Bratasena, adalah tokoh sentral dalam pewayangan Jawa (Wayang Purwa) dan merupakan putra kedua dari Pandawa Lima. Ia merupakan titisan Bathara Bayu (dewa angin), yang menjadikannya Pandawa dengan kekuatan fisik paling dahsyat, jujur, berhati lembut meski berpenampilan garang, serta teguh pada janji. Kamis,(5/3)2026)
Berikut kisah perjalanan hidup Raden Werkudara : "Bima Bungkus" Werkudara lahir dalam keadaan terbungkus selaput tipis yang tidak bisa dirobek oleh senjata apa pun, membuat Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Kunti sedih. Atas saran Begawan Abiyasa, bayi tersebut dibuang di hutan Krendawahana.
Setelah bertahun-tahun, Batara Guru mengutus putranya, Gajah Sena, untuk memecahkan bungkus tersebut. Setelah selaput pecah, Gajah Sena bertarung dengan sang bayi. Gajah Sena tewas, dan kekuatannya menyatu ke dalam tubuh bayi tersebut.
Batari Durga kemudian memberinya pakaian dan senjata, kain Poleng Bintulu, Gelang Candrakirana, Kalung Nagabanda, dan lainnya.
Masa muda dan pendidikan Bratasena (nama masa mudanya) tumbuh menjadi satria yang gagah perkasa, tinggi, berkumis, dan berjenggot.
Ia dikenal lugas, tidak pernah menggunakan bahasa krama alus (Jawa halus) kepada siapa pun, bahkan kepada dewa atau gurunya, melainkan bahasa ngoko (bahasa sehari-hari), karena ia memegang teguh kejujuran dan benci kepura-puraan.
Werkudara berguru pada Begawan Drona, ia menjadi murid kesayangan karena kejujuran dan dedikasinya.
Lakon Dewa Ruci (Pencarian Jati Diri). Salah satu cerita ikonik Werkudara adalah "Dewa Ruci", di mana ia ditipu oleh Kurawa melalui perintah gurunya, Drona, untuk mencari "Air Kehidupan" (tirta perwita) di dasar samudra.
Keberanian Werkudara menuruti perintah tersebut meski berbahaya. Di dasar laut, ia mengalahkan naga raksasa. Ilmu sejati Ia kemudian bertemu dengan Dewa Ruci, dewa kerdil yang merupakan perwujudan jati diri Werkudara. Ia masuk ke telinga Dewa Ruci dan mendapatkan ilmu pengetahuan sejati (makrifat), memahami hakikat hidup, dan mencapai kesempurnaan
Pernikahan dan Keturunan Werkudara memiliki tiga istri yang memberinya keturunan gagah. Dewi Nagagini Ibu dari Arya Anantareja. Dewi Arimbi Ibu dari Raden Gatotkaca, ksatria Pringgadani yang sakti. Dewi Urangayu Ibu dari Arya Anantasena.
Senjata/Kekuatan Kuku Pancanaka (kuku ibu jari yang sangat tajam), Gada Rujakpolo, dan Gada Lambitamuka.
Dalam perang besar di Kurukshetra, Werkudara menjadi andalan utama Pandawa. Pembalasan Ia berhasil membunuh seluruh anak Kurawa (seratus bersaudara), terutama Duryudana dan Dursasana, sebagai balas dendam atas perlakuan keji mereka terhadap Pandawa dan Drupadi.
Puncak peperangan Werkudara adalah sosok yang merobek dada Dursasana dan menghancurkan paha Duryudana dengan gada
Akhir hayat setelah memenangkan Bharatayuda dan memerintah, Werkudara beserta Pandawa lainnya melakukan perjalanan suci (tapa brata) menuju puncak Gunung Himalaya untuk mencapai kesempurnaan hidup dan kembali ke alam dewa.
Nilai teladan Werkudara adalah simbol profesionalisme, satria pinandhita (kesatria yang religius), setia pada janji, taat pada ibu, dan berani membela kebenaran meskipun nyawa taruhannya.
(Reporter ; Widi)
