Infokita Investigasi,JAKARTA - Rabu, (4/3/2026), Kisah Buto Amral (atau Buta Amral) dalam pewayangan Jawa adalah salah satu wujud tiwikrama (penjelmaan/perubahan wujud menjadi raksasa yang dahsyat) dari tokoh Pandawa, yaitu Prabu Puntadewa (Yudhistira). Meskipun berwujud raksasa yang menakutkan, Buto Amral tidak memiliki sifat jahat layaknya buta/raksasa pada umumnya, melainkan merupakan wujud pelindung yang muncul dalam keadaan terdesak atau krusial.
Berikut adalah kisah asal usulnya, Tiwikrama Prabu Puntadewa
Buto Amral adalah jelmaan Prabu Puntadewa, raja Amarta yang dikenal paling sabar, jujur, dan tidak pernah berbohong. Dalam kondisi tertentu, biasanya saat negara dalam bahaya besar atau Pandawa terdesak oleh musuh yang kuat Puntadewa melakukan tiwikrama, yaitu pemusatan energi batin yang dahsyat hingga mengubah wujud fisiknya menjadi sosok raksasa yang mengerikan.
Dalam budaya Jawa, tiwikrama adalah simbol kekuatan batin yang keluar menjadi kekuatan fisik luar biasa saat kebenaran terancam.
Buto Amral wujud: raksasa besar, seram, dan kuat. Akan tetapi sifat berbeda dengan buta raksasa yang rakus dan jahat, Buto Amral adalah perwujudan "Dewa" atau kekuatan suci. Sifatnya tetap bijaksana dan berpihak pada kebajikan (dharma).
Buto Amral sering muncul dalam lakon-lakon carangan (cerita tambahan) atau lakon khusus yang menuntut peran Pandawa yang lebih agresif.
Dalam salah satu kisah (seperti yang sering dipentaskan dalam PKKMB FP UNS), Buto Amral muncul dalam lakon Sri Boyong. Sosok ini menjadi maskot yang menggambarkan kekuatan tersembunyi Pandawa.
Penyebab ketika Pandawa menghadapi ancaman berat yang tidak bisa diselesaikan dengan cara halus, Puntadewa terpaksa mengambil wujud ini.
Buto Amral bertindak sebagai pelindung, mengamankan Dewi Sri (simbol kemakmuran/kesuburan) dari tangan musuh.
Kisah Buto Amral memberikan pengajaran bahwa kebaikan harus tegas. Orang yang sabar (seperti Puntadewa) pun bisa murka dan berubah menjadi sosok yang menakutkan jika kebenaran dan kesucian diinjak-injak.
Kekuatan fisik raksasa (Buto) jika didasari oleh batin yang suci (Dewa) akan menghasilkan perlindungan, bukan kehancuran.
Dalam pewayangan, Buto Amral/Buto Amral malihan Puntadewa ini menunjukkan bahwa batas antara kebaikan (Pandawa) dan kekuatan destruktif (raksasa) bisa melebur dalam situasi darurat demi menegakkan keadilan.
(Reporter : Widi)
