Infokita Investigasi, Yogyakarta - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, menegaskan bahwa perselingkuhan membawa dampak serius terhadap kesehatan fisik, psikologis, keharmonisan keluarga, hingga stabilitas sosial masyarakat.
Hal itu ia sampaikan dalam ceramah Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (20/04/2026).
Dalam kajian bertema perselingkuhan dari perspektif penelitian dan tinjauan Islam tersebut, Budi mengawali pemaparannya dengan hasil penelitian terbaru mengenai dampak kesehatan jangka panjang akibat perselingkuhan.
Ia menjelaskan, sebuah studi yang melibatkan 2.579 orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara pengalaman perselingkuhan pasangan dengan kondisi kesehatan yang lebih buruk. Penelitian itu mengungkap bahwa orang yang terlibat dalam perselingkuhan cenderung mengalami penurunan kesehatan, termasuk meningkatnya risiko penyakit kronis.
“Orang yang suka selingkuh kesehatannya akan memburuk. Salah satunya penyakit jantung. Karena hidupnya penuh rasa takut ketahuan, jantung berdebar terus, stres berkepanjangan, dan itu memperparah penyakit,” ujarnya disambut tawa jamaah.
Namun demikian, ia menambahkan bahwa individu yang memiliki support system kuat cenderung lebih mampu menekan risiko penyakit kronis akibat dampak psikologis perselingkuhan.
Budi juga menyoroti fenomena perselingkuhan di Indonesia yang dinilainya cukup memprihatinkan. Berdasarkan data survei, Indonesia disebut menempati peringkat kedua sebagai negara dengan tingkat perselingkuhan tertinggi di Asia.
“Ini bukan prestasi yang membanggakan. Negara dengan tingkat perselingkuhan nomor dua se-Asia tentu menjadi alarm serius bagi kita semua,” katanya.
Dalam penjelasannya, Budi menegaskan bahwa perselingkuhan bukanlah fenomena baru. Di era modern, menurutnya, perselingkuhan justru semakin sulit dideteksi karena banyak dilakukan secara tersembunyi melalui media sosial, aplikasi pesan, hingga berbagai platform digital. Fenomena ini dikenal sebagai cyber infidelity, yaitu bentuk pelanggaran emosional maupun seksual melalui perangkat digital.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keterbukaan dalam rumah tangga, termasuk soal penggunaan telepon genggam. Menurutnya, sebagai kepala keluarga, suami memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keluarganya, sebagaimana firman Allah Swt.:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Faktor-faktor Selingkuh
Budi kemudian memaparkan sejumlah faktor penyebab perselingkuhan. Dari sisi psikologis, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, rasa bosan dalam hubungan, trauma masa kecil, hingga kepribadian narsistik dapat menjadi pemicu.
“Kadang seseorang selingkuh bukan karena kurang cinta, tapi karena merasa tidak diperhatikan. Maka luangkan waktu bersama, masak bersama, duduk berdua, bahkan sekadar bergandengan tangan itu penting,” katanya.
Ia juga menyinggung faktor biologis dan evolusional, di mana laki-laki cenderung mencari variasi biologis sementara perempuan lebih sering terdorong oleh kebutuhan emosional. Namun, ia menegaskan bahwa penjelasan ini bukan pembenaran untuk berselingkuh, melainkan bentuk kewaspadaan agar manusia mampu mengendalikan diri dengan agama.
Selain itu, faktor sosial seperti normalisasi konten seksual di media, lingkungan kerja yang terlalu intens tanpa batas, minimnya kontrol sosial, lemahnya pendidikan agama, hingga kecanduan digital juga memperbesar peluang terjadinya perselingkuhan.
Dari sisi perkawinan, minimnya komunikasi, kurangnya keintiman, pertengkaran yang menumpuk, ketidakadilan peran, dan kekecewaan terhadap perubahan pasangan menjadi penyebab yang sangat dominan.
“Kalau pulang ke rumah rasanya seperti masuk neraka karena ribut terus, orang bisa jenuh. Dari situ perselingkuhan sering bermula,” ujarnya.
Dampak Serius dari Perselingkuhan
Ia mengingatkan bahwa dampak perselingkuhan sangat luas. Secara psikologis, pasangan yang diselingkuhi bisa mengalami trauma, depresi, hilangnya rasa percaya diri, hingga gangguan stres berkepanjangan. Pelaku pun tidak luput dari rasa bersalah dan penyesalan panjang.
Secara sosial, perselingkuhan kerap berujung pada perceraian, pecahnya keluarga, trauma pada anak, serta hilangnya stabilitas ekonomi rumah tangga. Bahkan secara spiritual, perselingkuhan menghilangkan keberkahan rumah tangga, memutus silaturahmi, dan menggelapkan hati karena dosa yang terus berulang.
Dalam tinjauan Islam, Budi menegaskan bahwa Allah melarang bukan hanya zina, tetapi juga segala hal yang mendekatinya.
Ia membacakan firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
Menurutnya, chatting mesra dengan lawan jenis yang bukan pasangan sah pun sudah termasuk langkah menuju perselingkuhan.
“Mulainya sering dari chat. Menanyakan kabar, perhatian berlebihan, padahal tidak ada hubungan yang sah. Itulah pintu awalnya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perselingkuhan adalah bentuk khianat. Rasulullah saw. menyebut salah satu tanda orang munafik adalah ketika diberi amanah, ia berkhianat.
“Selingkuh itu khianat dalam ikatan pernikahan. Itu bukan sekadar urusan pribadi, tapi pengkhianatan terhadap amanah,” katanya.
Sebagai solusi, Budi menekankan pentingnya komunikasi yang jujur dan terbuka antara suami dan istri, rekonsiliasi setelah konflik, terapi pasangan bila diperlukan, lingkungan pertemanan yang sehat, pembatasan akses terhadap konten negatif, keterbukaan dalam penggunaan media sosial, serta penguatan iman dan muraqabah kepada Allah.
“Kalau kita merasa diawasi Allah, baru mau chatting saja sudah takut. Itu benteng paling kuat,” ujarnya.
Ia juga menganjurkan pasangan untuk meluangkan waktu bersama, saling memuji, memenuhi kebutuhan emosional dan biologis secara halal, serta memperkuat ikatan pernikahan dengan kasih sayang yang nyata.
“Luangkan waktu bersama walaupun hanya ke Indomaret. Yang penting ada kebersamaan. Jangan sampai sudah rajin mengaji, tapi masih juga selingkuh,” tutupnya.
Budi menegaskan, perselingkuhan adalah fenomena multidisipliner yang menyentuh aspek sejarah, budaya, psikologi, dan spiritualitas. Karena itu, penyelesaiannya pun harus menyentuh seluruh aspek tersebut, dengan fondasi utama berupa penguatan iman, komunikasi sehat, pengendalian diri, dan lingkungan yang baik.(red)
