Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat? -->

breaking news

News

Baca di Helo

Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?

Minggu, Mei 17, 2026



Infokita Investigasi, Jakarta,(18/5/2026 )-  Selama berabad-abad, shalat dipahami terutama sebagai kewajiban spiritual dalam agama Islam. Namun, dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, para ilmuwan mulai menemukan bahwa aktivitas ibadah seperti shalat ternyata memiliki pengaruh besar terhadap sistem saraf, kesehatan mental, stabilitas emosi, bahkan kondisi biologis tubuh manusia.


Apa yang dahulu dipahami sebagai “ketenangan spiritual” kini perlahan dapat dijelaskan melalui pendekatan psikologis, neurosains, dan ilmu kesehatan modern.


Dalam Islam, Rasulullah SAW menjadikan shalat sebagai sumber ketenangan hidup. Beliau berkata: “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.” (HR Abu Dawud)


Kalimat ini menarik jika dikaji secara ilmiah. Mengapa shalat justru menjadi sarana istirahat psikologis? Mengapa manusia bisa merasa lebih tenang setelah shalat? Dan mengapa orang yang menjaga kualitas shalat cenderung memiliki daya tahan mental yang lebih baik? Ilmu pengetahuan modern mulai menemukan jawabannya.



Tubuh manusia memiliki dua sistem saraf utama, yaitu sympathetic nervous system dan parasympathetic nervous system.


Sistem saraf simpatik bekerja ketika manusia mengalami stres, tekanan, ketakutan, atau kecemasan. Saat aktif, tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Detak jantung meningkat, pikiran menjadi tegang, dan tubuh berada dalam mode “fight or flight”.


Sebaliknya, sistem parasimpatik berfungsi menenangkan tubuh, menurunkan tekanan mental, memperlambat denyut jantung, dan memulihkan keseimbangan biologis.


Menariknya, aktivitas shalat yang dilakukan dengan tenang, fokus, dan khusyuk memiliki efek kuat dalam mengaktifkan sistem parasimpatik.


Gerakan teratur, pernapasan yang stabil, bacaan yang repetitif, serta kondisi hening saat shalat membantu otak keluar dari mode stres menuju mode relaksasi.


Karena itu, banyak orang merasa lebih ringan setelah shalat, lebih tenang setelah sujud, dan lebih stabil emosinya setelah berdzikir. Secara ilmiah, itu bukan sekadar sugesti, tetapi respons biologis tubuh terhadap aktivitas spiritual.



*Shalat dan Gelombang Otak :*

Dalam penelitian neurosains, otak manusia menghasilkan beberapa jenis gelombang seperti beta, alpha, theta, dan delta.


Gelombang beta dominan saat manusia sibuk berpikir, cemas, atau stres. Sedangkan gelombang alpha dan theta muncul ketika manusia berada dalam keadaan relaks, fokus mendalam, meditasi, dan ketenangan batin.


Beberapa penelitian tentang meditasi dan aktivitas spiritual menunjukkan bahwa kondisi doa yang khusyuk mampu meningkatkan gelombang alpha dan theta dalam otak. Ini berkaitan dengan ketenangan mental, meningkatnya fokus, kestabilan emosi, dan menurunnya kecemasan.


Dalam shalat, terutama ketika sujud dan membaca ayat dengan penghayatan, manusia masuk ke kondisi konsentrasi mendalam yang mirip dengan keadaan meditatif. Bedanya, dalam Islam kondisi ini tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga spiritual karena terhubung dengan kesadaran ketuhanan.


Karena itu, Alquran menyatakan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)


Hari ini, ilmu saraf mulai menunjukkan bahwa ketenangan tersebut memang memiliki dasar biologis dan neurologis.


Shalat juga unik karena menggabungkan aktivitas mental dan gerakan fisik secara simultan. Setiap gerakan memiliki dampak fisiologis, berdiri melatih keseimbangan tubuh, rukuk membantu fleksibilitas tulang belakang, sujud meningkatkan aliran darah ke otak, sedangkan duduk tahiyat membantu relaksasi otot dan persendian.


Dalam posisi sujud, kepala berada lebih rendah dari jantung sehingga suplai oksigen dan darah ke otak meningkat. Beberapa ahli kesehatan menyebut kondisi ini membantu relaksasi sistem saraf dan memperbaiki stabilitas emosi.


Selain itu, pola gerakan shalat yang dilakukan lima kali sehari menciptakan efek aktivitas fisik ringan yang konsisten. Dalam ilmu kesehatan modern, aktivitas ringan yang rutin jauh lebih baik dibanding aktivitas berat tetapi jarang dilakukan.


Artinya, shalat bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga bentuk “mikro-olahraga” harian yang menjaga ritme tubuh manusia.



*Shalat dan Kesehatan Mental :*

Dunia modern mengalami krisis kesehatan mental yang serius. Tingkat depresi, anxiety disorder, dan stres meningkat hampir di seluruh dunia. Banyak manusia kehilangan kemampuan untuk diam, tenang, dan terhubung dengan dirinya sendiri.


Shalat sebenarnya menyediakan mekanisme psikologis yang sangat penting, jeda dari distraksi, refleksi diri, pelepasan emosi, pengendalian pikiran dan rasa keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.


Dalam psikologi modern, manusia membutuhkan rasa makna, rasa aman, rasa keterhubungan, harapan hidup. Shalat memenuhi keempat unsur tersebut sekaligus.


Ketika seseorang bersujud, ia tidak merasa sendirian menghadapi hidup. Ada tempat mengadu, tempat meminta pertolongan, dan tempat menyerahkan beban batin. Ini menciptakan efek psikologis yang sangat kuat terhadap ketahanan mental manusia.


Karena itu, orang yang menjaga ibadah biasanya lebih tahan menghadapi musibah, lebih stabil emosinya, tidak mudah putus asa, dan lebih mampu mengendalikan stres.


Bukan karena hidup mereka tanpa masalah, tetapi karena mereka memiliki sistem pemulihan batin yang terus bekerja.



*Mengapa Rasulullah Merindukan Shalat?*

Dari perspektif sains modern, kerinduan Rasulullah SAW terhadap shalat sangat masuk akal. Nabi hidup dalam tekanan luar biasa, dihina, diperangi, kehilangan orang-orang tercinta, dan memikul tanggung jawab sosial besar.


Tetapi beliau tidak mencari pelarian melalui hiburan atau pelampiasan dunia. Beliau kembali kepada shalat. Karena shalat adalah mekanisme pemulihan total yang menenangkan sistem saraf, menstabilkan emosi, mengurangi stres, memperkuat makna hidup, dan membangun ketahanan psikologis.


Dalam bahasa agama disebut ketenangan ruhani. Dalam bahasa sains disebut regulasi neurologis dan psikologis. Namun, keduanya menunjuk pada realitas yang sama bahwa manusia membutuhkan hubungan spiritual untuk tetap sehat secara mental dan emosional.


Mungkin ilmu pengetahuan modern baru mulai memahami sebagian kecil manfaat shalat. Namun semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa praktik spiritual yang dilakukan secara sadar dan konsisten memiliki dampak besar terhadap kesehatan manusia secara menyeluruh. Dan Islam telah mengajarkan itu sejak lebih dari 14 abad lalu.


Karena itu, shalat seharusnya tidak dipahami hanya sebagai kewajiban agama yang menggugurkan dosa, tetapi sebagai kebutuhan biologis, psikologis, dan spiritual manusia. Sebab seiring dunia yang penuh tekanan dan kegelisahan, manusia tidak hanya membutuhkan makanan untuk tubuhnya, tetapi juga ketenangan untuk jiwanya. (red)