Infokita Investigasi, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia melihat potensi pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK) jika tekanan terhadap dunia usaha terus berlanjut. Salah satu faktor yang paling dikhawatirkan adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, mengatakan pelemahan rupiah mulai menekan biaya operasional perusahaan, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi mengganggu arus kas dan menekan omzet perusahaan hingga memicu rasionalisasi tenaga kerja.
“Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kita hindari,” kata Sarman, dilansir Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).
Ia menegaskan dunia usaha mendukung berbagai langkah pemerintah untuk memperkuat kembali nilai tukar rupiah.
“Kita mendukung penuh berbagai upaya, usaha, dan langkah pemerintah agar penguatan nilai tukar rupiah ini segera terjadi,” imbuhnya.
Sarman menjelaskan, kalangan pengusaha sebenarnya sudah mulai waspada ketika rupiah menyentuh level Rp17.000 per dolar AS. Namun pelemahan yang terus berlanjut hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS kini menjadi alarm serius bagi dunia usaha.
Karena itu, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap sektor ketenagakerjaan.
“Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk pemerintah sudah harus segera ditindaklanjuti agar dapat membantu dunia usaha untuk mengantisipasi terjadinya rasionalisasi tenaga kerja,” ujarnya.
Pengusaha Masih Tahan Naikkan Harga. Kurs Rupiah terhadap Dolar :
Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (2/11/2020). Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (2/11) sore ditutup melemah 0,1 persen ke level Rp14.640 per dolar AS, dari perdagangan sebelumnya yaitu Rp14.690 per dolar AS.
Sebelumnya, Kadin juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah mulai menggerus daya tahan pelaku usaha.
Sarman menyebut rupiah sempat menyentuh level Rp17.614 per dolar AS yang menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah.
“Rupiah kini kembali ke level pelemahan terdalam sepanjang sejarah, mencapai Rp17.614 per dolar AS melemah 0,48%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Pelemahan ini sangat menekan psikologi pelaku usaha dan menjadi alarm yang perlu diwaspadai,” jelasnya.
Ia menambahkan, tekanan kurs membuat biaya impor bahan baku meningkat dan memengaruhi struktur biaya produksi perusahaan.
“Jika pelemahan ini terus berlanjut maka daya tahan pelaku usaha akan terbatas dan dikhawatirkan terjadi penyesuaian harga di tingkat konsumen,” kata dia.
Meski demikian, pelaku usaha masih berpikir ulang untuk menaikkan harga produk karena khawatir memukul daya beli masyarakat dan memperburuk inflasi.
“Jika kenaikan harga produk ini mengalami penyesuaian tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi. Termasuk pelaku usaha UMKM juga akan semakin tertekan karena harga bahan baku, logistik, dan distribusi naik, sementara untuk menaikkan harga penuh risiko takut tidak laku,” tutur Sarman. (red)
