Iran Balas Serang Israel, Kekhawatiran Perang Meningkat -->

breaking news

News

Baca di Helo

Iran Balas Serang Israel, Kekhawatiran Perang Meningkat

Selasa, Juni 09, 2026



Infokita Investigasi, TEL AVIV - Militer Israel menyatakan Iran telah meluncurkan gelombang kedua rudal ke wilayahnya, memicu sirene peringatan di berbagai daerah di seluruh negeri. Serangan tersebut terjadi setelah Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Iran. Ledakan dilaporkan terjadi di Teheran, Tabriz, dan Isfahan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.(8/6/2026)


Eskalasi terbaru juga terjadi setelah Israel menyerang wilayah pinggiran selatan Beirut yang menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai 20 lainnya.


Iran sebelumnya meluncurkan serangan rudal ke wilayah utara Israel sebagai respons atas serangan di Beirut. Teheran menuduh Israel berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah meminta kedua pihak menahan diri dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.


Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump bahkan menyebut Netanyahu sebagai pihak yang "mengendalikan seluruh keputusan" dalam situasi saat ini.



*Beirut Diserang, Israel Dibalas ;*

Iran disebut tengah menerapkan strategi baru dalam konflik kawasan dengan mengaitkan langsung setiap serangan Israel ke Beirut dengan serangan balasan terhadap wilayah Israel.


Dikutip dari Al Jazeera, koresponden yang melaporkan dari Beirut, Zeina Khodr, mengatakan konflik saat ini telah memasuki fase baru setelah militer Iran untuk pertama kalinya terlibat secara langsung dalam mendukung Hezbollah, kelompok politik dan militer Syiah yang berbasis di Lebanon.


Menurutnya, Iran berupaya memastikan front konflik Lebanon dan Iran tetap saling terhubung. Langkah tersebut bertolak belakang dengan upaya Amerika Serikat dan Israel yang berusaha memisahkan kedua arena konflik tersebut.


"Kini Iran mencoba menetapkan persamaan baru, yakni: 'Jika Anda menyerang Beirut, kami akan menyerang Israel'," ujarnya.


Pernyataan tersebut muncul setelah Kementerian Luar Negeri Iran kembali menegaskan bahwa setiap penyelesaian krisis regional harus mencakup gencatan senjata di seluruh front konflik.


Khodr menilai kondisi tersebut menempatkan pemerintah Lebanon dalam posisi yang sulit karena selama ini berupaya mendorong kemajuan menuju perdamaian.


Sebelumnya, Amerika Serikat telah memfasilitasi proses diplomatik yang mempertemukan pemerintah Lebanon dan Israel dalam pembicaraan langsung untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.


Namun, hingga kini perundingan tersebut belum menghasilkan kemajuan berarti dan Hezbollah menolak proses pembicaraan tersebut.



*Diplomasi AS Hadapi Ujian :*

Manuel Rapalo yang melaporkan dari Washington DC menilai pernyataan keras Trump sejauh ini belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan di lapangan.


Menurutnya, Trump telah menghubungi Netanyahu untuk meminta Israel menahan diri setelah gelombang pertama rudal Iran diluncurkan ke wilayah Israel.


Namun tidak lama kemudian, Israel justru melancarkan serangan balasan. Sejak saat itu, sejumlah serangan lanjutan dilaporkan terus menghantam berbagai target di Iran.


Rapalo mencatat sudah beberapa jam tidak ada pernyataan baru dari pejabat Amerika Serikat.


Ia menilai para diplomat dan pejabat AS kemungkinan menghadapi malam yang panjang di tengah upaya mereka mendorong tercapainya kesepakatan damai, baik antara Washington dan Teheran maupun antara Israel dan Lebanon.


Menurutnya, perkembangan terbaru juga memunculkan pertanyaan mengenai seberapa besar pengaruh yang masih dimiliki Amerika Serikat terhadap Israel, mengingat seruan Trump untuk menahan diri tampaknya tidak direspons oleh Netanyahu.


Rapalo menilai optimisme Trump mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam beberapa hari ke depan semakin sulit dipertahankan di tengah meningkatnya eskalasi militer.


Setiap serangan rudal dan setiap peningkatan ketegangan, menurutnya, akan menambah tekanan terhadap Amerika Serikat sekaligus mempersempit ruang diplomasi.


Meski demikian, satu hal yang dinilai pasti adalah banyak pejabat Amerika Serikat tidak menginginkan pasukan AS kembali terlibat dalam perang terbuka dengan Iran. (wd)