Infokita Investigasi, WASHINGTON (25 Juli 2026) – Majalah Amerika Serikat The Atlantic menilai Washington gagal mencapai seluruh tujuan politiknya dalam perang melawan Iran. Alih-alih memperbaiki keadaan, konflik tersebut justru menciptakan situasi yang lebih buruk dibandingkan sebelum perang.
Menurut laporan Fars News, dalam artikelnya yang terbit pada Jumat (24/7/2026), Andrew Exum menulis bahwa semakin cepat Amerika Serikat mengakui kekalahannya dalam perang melawan Iran, semakin besar peluang untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan.
“Semakin cepat kita mengakui bahwa Amerika telah kalah dalam perang melawan Iran, semakin baik. Kini saatnya membereskan kekacauan yang telah diciptakan,” tulis Exum.
The Atlantic juga mengkritik pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sidang dengar pendapat Senat yang menyebut operasi militer terhadap Iran sebagai sebuah keberhasilan.
Menurut Exum, negara tidak berperang semata-mata untuk mencapai sasaran militer, melainkan untuk mewujudkan tujuan politik. Dari perspektif tersebut, ia menilai Washington tidak berhasil mencapai satu pun tujuan politiknya.
Bahkan, lanjutnya, situasi pada Juli 2026 jauh lebih buruk dibandingkan sebelum konflik pecah.
Artikel itu juga menyoroti dampak perang terhadap jalur pelayaran strategis. Selat Hormuz yang sebelumnya terbuka kini disebut sebagian besar tidak lagi beroperasi secara normal, sementara Selat Bab al-Mandeb juga dinilai terganggu akibat aksi kelompok Ansarullah Yaman.
The Atlantic turut mengutip peringatan pelaku industri energi Amerika mengenai potensi kekurangan pasokan minyak dan gas apabila gangguan perdagangan terus berlanjut. Perusahaan energi Exxon dan Chevron disebut telah memperingatkan bahwa krisis energi dapat menjadi tak terhindarkan dan berpotensi mengguncang perekonomian global.
Menurut artikel tersebut, Amerika Serikat juga tidak memiliki solusi militer yang efektif untuk mengatasi situasi itu. Iran dinilai mampu mengancam lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan operasi militer konvensional.
Exum menambahkan bahwa konflik tersebut telah memperlihatkan besarnya pengaruh psikologis Iran terhadap perusahaan pelayaran dan perusahaan asuransi maritim. Menurutnya, pengaruh itu cukup kuat untuk memengaruhi lalu lintas pelayaran tanpa harus menutup Selat Hormuz secara fisik. (wd)
