HANCURKAN PRAGMATISME POLITIK: SOMAD SERUKAN KEMBALI KE JALAN PENGABDIAN -->

breaking news

News

Baca di Helo

HANCURKAN PRAGMATISME POLITIK: SOMAD SERUKAN KEMBALI KE JALAN PENGABDIAN

Minggu, September 13, 2026



Infokita Investigasi, JAKARTA – Sekjen POROS 98 sekaligus kader PPP, Rahmat Hidayat yang akrab disapa Somad, menyerukan perlawanan terhadap budaya pragmatisme yang dinilainya telah merusak sendi-sendi politik di Indonesia.


Menurut Somad, pragmatisme menjadi berbahaya ketika keuntungan, jabatan, dan kepentingan pribadi ditempatkan di atas nilai, integritas, dan kemaslahatan publik.



“Masalahnya, pragmatisme tidak cukup dilawan dengan nasihat. Ia harus diubah melalui transformasi nilai,” tegas Somad di Jakarta, Sabtu (13/9/2026) markas besar Poros 98 Tebet 


Ia mencontohkan ajaran Rasulullah Muhammad SAW bahwa perubahan sosial selalu dimulai dari perubahan manusia. Dari cara pandang, kesadaran, akhlak, hingga terbentuknya tatanan baru.


“Prinsipnya sederhana: Nilai → Kesadaran → Perilaku → Sistem → Budaya. Karena itu, jika ingin mengubah perilaku, jangan hanya menyalahkan individu. Kita juga harus mengubah sistem yang membuat perilaku pragmatis dianggap wajar, bahkan dihargai,” ujarnya.


Somad menekankan bahwa transformasi politik harus dimulai dari perubahan pertanyaan paling mendasar.


“Bukan lagi ‘Apa yang saya dapat?’, tetapi ‘Apa yang dapat saya berikan?’ Jabatan harus dipandang sebagai amanah. Kekuasaan harus menjadi sarana pengabdian. Organisasi harus menjadi ruang kontribusi, bukan sekadar kendaraan menuju posisi,” Tutur Somad 


“PPP tidak cukup hanya mengandalkan sejarah dan identitas. Keduanya harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang menghasilkan manfaat dan kepercayaan masyarakat,” kata Somad.


Ia meminta struktur partai dihidupkan kembali. Kader harus diukur berdasarkan integritas, kompetensi, dan kontribusi. Mulai dari tingkat ranting, PAC, DPC hingga DPW wajib hadir dan menyelesaikan persoalan rakyat.


Somad juga mengingatkan bahwa parliamentary threshold bukanlah titik awal perjuangan politik.


“Ia adalah akibat. Akibat dari proses membangun kepercayaan. Rumusnya jelas: 


Nilai → Kader → Kerja → Manfaat → Kepercayaan → Suara → Kursi,” jelasnya.


Karena itu, pertanyaan penting bagi PPP bukan bagaimana mendapatkan suara, tetapi mengapa masyarakat harus kembali percaya kepada PPP.


“Jawabannya bukan pada slogan, baliho, atau janji. Jawabannya ada pada kerja yang konsisten dan manfaat yang nyata,” tegasnya.


Di akhir, Somad mengajak seluruh pelaku politik untuk mengembalikan politik pada hakikatnya.


“Pragmatisme tidak akan hilang hanya karena kita mencelanya. Ia akan berkurang ketika integritas, pengabdian, dan kemaslahatan kembali menjadi nilai yang dihargai. Politik harus kembali pada pertanyaan sederhana: Bukan ‘apa yang saya dapat dari rakyat?’, tetapi ‘apa yang dapat saya berikan kepada rakyat?’ Dari transaksi menuju kontribusi. Dari kepentingan menuju kemaslahatan. Dari pragmatisme menuju integritas".(Tim)