Infokita Investigasi, JAKARTA,Sabtu,(12/9/2026) – Almarhum Ki Seno Nugroho tetap bertahta di hati para pencinta seni pewayangan sebagai salah satu dalang legendaris yang merevolusi jagat pakeliran. Salah satu warisan seni paling ikonik yang terus dibicarakan hingga hari ini adalah gerakan sabetan wayang kulit paling spektakuler miliknya, yang memadukan kecepatan tinggi, presisi, dan dramatisasi modern tanpa keluar dari pakem klasik.
Sabetan atau teknik menggerakkan boneka wayang dalam adegan perang di tangan Ki Seno Nugroho bukan sekadar visualisasi pertempuran. Teknik ini menjadi sebuah pertunjukan koreografi yang dinamis, bertenaga, dan penuh kejutan, yang berhasil memikat generasi muda untuk kembali mencintai budaya tradisi.
Keunikan sabetan spektakuler memiliki ciri khas yang sangat kontras dibandingkan dengan gaya dalang klasik konvensional.
Beberapa poin utama yang membuat gerakan sabetannya dinilai spektakuler meliputi,
Ki Seno mampu memainkan dua wayang atau lebih dalam tempo yang sangat cepat (kebat-kliwat), menyerupai ritme film aksi modern.
Ia kerap melempar dan menangkap wayang di udara dengan akurasi sempurna, memberikan efek visual pertempuran udara yang dramatis.
Gerakan sabetan yang lincah ini disinkronisasikan secara genius dengan tabuhan kendang dan kepyak yang menghentak, menciptakan ketegangan yang intens bagi penonton.
Melalui getaran tangan dan poros gerakan yang tepat, Ki Seno mampu membuat wayang kulit yang kaku terlihat seolah-olah bernapas dan memiliki emosi saat bertarung.
Ki Seno menjadi jembatan tradisi dan generasi milenial melalui inovasi sabetan yang atraktif ini, Ki Seno Nugroho juga berhasil mendobrak stigma bahwa pergelaran wayang kulit itu membosankan dan monoton.
Video dokumentasi adegan perang gagal maupun perang kembang yang dipimpinnya hingga kini masih ditonton jutaan kali di berbagai platform digital, menjadi rujukan utama bagi para dalang muda yang ingin mempelajari seni pakeliran dinamis.
Meski sang maestro telah tiada, filosofi dan teknik gerakan sabetan spektakuler Ki Seno Nugroho akan terus hidup. Gaya ini menjadi standar baru dalam dunia pewayangan kontemporer dan membuktikan bahwa wayang kulit mampu beradaptasi mutlak dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan kesakralannya.*(Widi)*


