Infokita Investigasi, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 28 poin ke posisi Rp18.184 per dolar AS pada perdagangan Rabu (28/10/2026), dari penutupan sebelumnya di level Rp18.156 per dolar AS.
Pelemahan tersebut dipicu sikap waspada pelaku pasar global menjelang pengumuman kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) di tengah lonjakan harga komoditas energi dunia.
"Pelemahan rupiah pada penutupan hari ini terutama dipengaruhi sikap pasar yang mengantisipasi keputusan kebijakan The Fed pada Rabu, di mana lonjakan harga minyak mentah kian memperumit kalkulasi inflasi dan arah suku bunga acuan mereka," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu (28/10/2026).
Dari sisi domestik, pergerakan rupiah juga terbebani harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas USD100 per barel. Kondisi tersebut berpotensi menaikkan biaya produksi dan tarif transportasi, sekaligus memperbesar ancaman tekanan inflasi.
Tekanan harga energi itu juga dinilai membayangi keseimbangan fiskal nasional karena berpotensi memperbesar tagihan subsidi dan kompensasi energi. Ibrahim menilai pengendalian subsidi, efisiensi belanja, penyaluran bantuan yang tepat sasaran, serta kepastian pasokan bahan bakar menjadi faktor penentu stabilitas pasar.
"Tekanan harga minyak di atas level seratus dolar per barel secara langsung membayangi kemampuan anggaran negara, sehingga pengendalian subsidi dan keseimbangan fiskal menjadi faktor penentu stabilitas pasar saat ini," ujarnya. (red)
