Infokita Investigasi, Jakarta - Industri dirgantara raksasa Korea Selatan, Korea Aerospace Industries (KAI), mempercepat langkah untuk mengamankan kepastian proyek jet tempur generasi 4,5, KF-21 Boramae dengan Indonesia.Sabtu (21/2/2026)
KAI menargetkan seluruh proses negosiasi akhir dengan Pemerintah Indonesia dapat diselesaikan paling lambat pada pertengahan tahun 2026 ini, seperti diberitakan The Financial News.
Langkah tersebut diambil guna memberikan kepastian operasional dan finansial, mengingat proyek ini merupakan pilar utama dalam ambisi KAI mencapai rekor pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Berdasarkan sumber industri pada tanggal 12 Februari, KAI telah menetapkan target finansial yang cukup agresif.
Perusahaan membidik perolehan pesanan (order) sebesar 10,43 triliun won (sekitar Rp123,17 triliun) dan target penjualan senilai 5,73 triliun won (sekitar Rp67,62 triliun) untuk tahun fiskal ini.
Kunci utama untuk mencapai target tersebut terletak pada ekspor perdana KF-21.Pesawat tempur yang dijuluki “Baby Raptor” ini masuk ke dalam target ekspor pesawat jadi senilai 6,5 triliun won (sekitar Rp75,7 triliun).
Batch awal produksi massal KF-21 diharapkan menjadi pendorong utama arus kas perusahaan.
Negosiasi dengan Indonesia menjadi sorotan utama setelah adanya penyesuaian nilai kontribusi.
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah mengusulkan pengurangan pembayaran dari rencana awal 1,6 triliun won menjadi 600 miliar won (setara Rp7 triliun).
Menanggapi hal tersebut, pihak Korea Selatan melalui DAPA (Defense Acquisition Program Administration) telah memberikan sinyal persetujuan, namun dengan kompensasi pengurangan transfer teknologi (ToT) yang akan diterima Indonesia.
Hingga saat ini, jet tempur KF-21 Boramae telah menunjukkan performa impresif dalam serangkaian uji cobanya.
Pesawat telah menyelesaikan uji terbang supersonik, menembus kecepatan suara tanpa kendala teknis.
Pesawat juga telah menalani uji integerasi rudal udara ke udara Meteor dan Iris-T sesuai jadwal.
KAI juga telah memulai lini produksi massal KF-21 untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Udara Korea Selatan (ROKAF) yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.
Potensi Ekspor : Selain dengan Indonesia, KAI aktif menjajaki pasar internasional lainnya seperti Polandia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan beberapa negara Asia Tenggara.
Kepastian status kerja sama dengan Indonesia di tahun 2026 dianggap akan menjadi “lampu hijau” bagi calon pembeli internasional lainnya mengenai stabilitas proyek ini. (red)
