Tak Takut AS-Israel, Dubes Iran Ungkap Kekuatan Rahasia Rudal Teheran -->

breaking news

News

Baca di Helo

Tak Takut AS-Israel, Dubes Iran Ungkap Kekuatan Rahasia Rudal Teheran

Tuesday, March 03, 2026




Infokita Investigasi, Jakarta - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan posisi negaranya yang kian tangguh di tengah ketegangan geopolitik global. Boroujerdi menekankan bahwa selama puluhan tahun, Iran telah membangun kemandirian total, terutama dalam aspek pertahanan dan teknologi militer yang kini menjadi kekuatan utama negara tersebut tanpa bergantung pada bantuan asing.


Kekuatan militer Iran diklaim telah mencapai titik di mana negara-negara adidaya tidak lagi memiliki keunggulan informasi atas alutsista yang dimiliki Teheran. Menurut Boroujerdi, penguasaan teknologi secara nasional ini merupakan hasil dari upaya berdiri di atas kaki sendiri yang telah dilakukan secara konsisten sejak hampir setengah abad yang lalu.



"Tetapi yang saya bisa sampaikan adalah sejak 47 tahun yang lalu negara kami telah berdiri di atas kaki sendiri dan juga menguasai berbagai teknologi militer secara nasional," ujar Mohammad Boroujerdi dalam pernyataan resmi di kediamannya di Jakarta, Senin (2/3/2026).


Boroujerdi secara gamblang menyebut bahwa kemandirian teknologi militer Iran menjadi tantangan besar bagi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal ini dikarenakan persenjataan Iran dikembangkan sepenuhnya di dalam negeri, sehingga pihak Barat tidak memiliki data intelijen maupun kendali teknis atas senjata-senjata yang diproduksi secara mandiri tersebut.


"Dan justru hal inilah yang menjadi sebuah tantangan dan kesulitan dan persoalan bagi Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel, dikarenakan mereka tidak berdaya untuk melawan senjata yang tidak mereka ekspor dan teknologinya tidak berasal dari mereka. Karena mereka tidak mengenal senjata yang Iran produksi, dan inilah kemampuan senjata Iran yang dapat melemahkan pihak musuh," tegasnya.


Terkait peluang diplomasi, Boroujerdi menjelaskan bahwa sebuah perundingan membutuhkan dasar kepercayaan yang kuat sebagai prinsip mendasar. Ia menyinggung pengalaman pahit Iran saat menjalin kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang justru dikhianati oleh pihak Washington secara sepihak meski telah didukung resolusi internasional.


"Bagi orang-orang yang mengenal politik, berlatar belakang ilmu politik, atau sekadar mengenal politik dan pentas politik, mengetahui bahwa langkah pertama dan prinsip mendasar dari sebuah negosiasi adalah membangun kepercayaan. Tentu kami telah melakukan hal tersebut dengan Amerika Serikat. Membangun kepercayaan berasal dari melaksanakan berbagai jenis komitmen," tuturnya.


"Kami telah bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan mencapai sebuah kesepakatan yang bernama JCPOA atau Kesepakatan Nuklir Iran. JCPOA telah di-endorse oleh resolusi Dewan Keamanan untuk memperkuat kesepakatan tersebut. Tetapi apa yang terjadi? Amerika Serikat secara sepihak keluar dari kesepakatan."


Kekecewaan Iran semakin mendalam karena upaya negosiasi lanjutan yang dilakukan selalu berakhir dengan serangan fisik di lapangan tepat saat kesepakatan mulai menunjukkan titik terang. Boroujerdi mengungkapkan bahwa berkali-kali proses diplomasi dihancurkan oleh agresi militer yang dilakukan oleh pihak lawan di tengah-tengah berlangsungnya putaran perundingan.



"Setelah itu, kami lima kali atau lima putaran melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat. Sudah amat dekat kepada kesepakatan, tetapi sebelum putaran keenam, Zionis Israel dan Amerika menyerang kami. Lagi-lagi setelah itu, baru-baru ini dua kali negosiasi. Sebelum penyerangan, dua kali negosiasi kami lakukan dengan Amerika. Sebelum negosiasi yang ketiga, hal yang sama terjadi yaitu serangan terhadap Iran. Ini terjadi pada saat berbagai pihak yang berada dalam negosiasi menyampaikan adanya kemajuan signifikan," jelas Boroujerdi.


Kini, Iran mempertanyakan jaminan keamanan jika harus kembali ke meja perundingan dengan pihak yang dianggap tidak konsisten. Boroujerdi memastikan bahwa meski Iran mengharapkan jalur diplomasi dan demokrasi, mereka menolak untuk kembali terjebak dalam skenario negosiasi yang hanya digunakan sebagai alat tipu daya untuk meluncurkan serangan militer.


"Dan saya ingin tanya kepada Anda: jika Anda seorang berkeinginan membuat keputusan untuk melakukan negosiasi dengan orang atau pemerintah yang memiliki ciri seperti yang saya sebutkan di atas ini, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, apakah Anda akan tetap melakukan negosiasi atau tidak? Tentu perlu jaminan. Apa jaminannya? Bagaimana bisa dipercayakan kembali? Apa jaminan sebuah kesepakatan tidak dimanfaatkan kembali dan tidak disalahgunakan?"


"Tentu kami adalah pihak yang mengharapkan negosiasi, ingin demokrasi, tetapi kami pada saat bersamaan tidak ingin menjadi pihak yang ditipu oleh negosiasi. Negosiasi dilakukan tetapi berujung kepada penyerangan," pungkasnya. (red)