Infokita Investigasi, JAKARTA, Kamis (3/9/2026) - Masyarakat Jawa dikenal memiliki kekayaan tradisi spiritulitas yang mendalam, salah satunya adalah keyakinan mengenai hubungan yang tetap terjalin antara orang yang hidup dan mendiang leluhur.
Fenomena kultural ini terekam kuat dalam sebuah tembang atau syiir populer yang kembali menggema di tengah masyarakat, yaitu "Saben Malam Jumat Ahli Kubur Mulih Ning Omah Njaluk Dungo" (Setiap Malam Jumat Ahli Kubur Pulang ke Rumah Meminta Doa).
Tembang yang kerap dilantunkan di berbagai langgar, masjid, dan majelis taklim di tanah Jawa ini bukan sekadar nyanyian pengantar selawat. Lebih dari itu, karya ini merupakan media dakwah visual-auditori yang sarat akan pesan moral, pengingat kematian (memento mori), serta peneguh ikatan bakti seorang anak kepada orang tua yang telah tiada.
Makna spiritual dan budaya secara harfiah, lirik tembang ini menggambarkan kepercayaan bahwa setiap malam Jumat, roh para leluhur diberikan kesempatan untuk menengok rumah dan keluarga yang ditinggalkan.
Mereka datang dengan harapan besar agar kiranya anak-cucu mengirimkan hadiah spiritual berupa bacaan Al-Qur'an, tahlil, istigfar, dan doa-doa keselamatan.
"Tembang ini menggunakan pendekatan kebudayaan yang sangat halus untuk mendidik masyarakat," ujar Dr. Agus Setiawan, M.Hum., seorang pengamat budaya Jawa-Islam.
"Melalui lirik yang menyentuh hati, masyarakat diingatkan bahwa kubur bisa menjadi tempat yang sepi dan gelap, dan satu-satunya penerang yang dinantikan oleh ahli kubur adalah kiriman doa dari keluarganya yang masih hidup.
"Relevansi di era modern di tengah gempuran modernisasi dan digitalisasi, eksistensi tradisi melantunkan syiir ini menjadi benteng pertahanan bagi kearifan lokal.
Tradisi ini terbukti efektif dalam menjaga silaturahmi lintas dimensi menjadi pengingat konstan bagi generasi muda untuk tidak melupakan asal-usul dan jasa para leluhur.
Perekat sosial Malam Jumat sering kali menjadi momen berkumpulnya warga dalam majelis yasinan dan tahlilan, yang memperkuat solidaritas antar tetangga.
Edukasi karakter mengajarkan nilai bakti (bakti kepada orang tua) yang tidak terputus meskipun raga telah terpisah oleh kematian.
Melalui rilis ini, para tokoh adat dan pemuka agama mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya generasi muda untuk terus merawat, mempelajari, dan melantunkan syiir-syiir bermakna seperti Saben Malam Jumat.
Warisan non-benda ini adalah identitas bangsa yang mempertemukan nilai keagamaan dan keluhuran budaya lokal secara harmonis.Kontak Media.*(Widi)*
