Infokita Investigasi, JAKARTA, Minggu,(27/9/2026) – Dunia seni pertunjukan tradisional kembali dihentak oleh gelaran wayang kulit spektakuler yang dibawakan oleh dalang kondang, Ki Sigid Ariyanto. Dalam pementasan ini, Ki Sigid membawakan lakon heroik yang berfokus pada salah satu tokoh sentral ksatria Pringgandani, yaitu Gatotkaca, dalam momen krusial menerima ajian sakti kesaktian kembar Manjing Brajadenta dan Brajamusti.
Lakon ini mengisahkan fase penting dalam hidup Gatotkaca saat dirinya harus menyerap energi dan kesaktian dari dua pamannya, Brajadenta dan Brajamusti, demi menjaga keutuhan serta kedaulatan kerajaan.
Prosesi "manjing" atau menyatunya dua kekuatan besar ini digambarkan dengan begitu hidup melalui sabetan wayang yang dinamis dan dramatis khas gaya Ki Sigid Ariyanto.
Pementasan yang dihadiri oleh ratusan pencinta seni budaya ini tidak hanya menonjolkan aspek tontonan visual semata.
Ki Sigid Ariyanto menyisipkan pesan mendalam tentang loyalitas, pengorbanan, serta tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh seorang pemimpin demi kemaslahatan orang banyak.
Penyatuan ajian Brajadenta dan Brajamusti ke dalam diri Gatotkaca disimbolkan sebagai penyelarasan kekuatan fisik dan ketajaman spiritual.
"Kisah Gatotkaca menerima ajian ini bukan sekadar pamer kesaktian. Ini adalah simbolisasi bagaimana seorang pemimpin harus mampu menyatukan berbagai potensi, meredam konflik, dan menginternalisasi kekuatan rakyat demi menegakkan keadilan," ujar Ki Sigid Ariyanto seusai pertunjukan.
Didukung oleh tata lampu modern dan aransemen gending karawitan yang megah, klimaks pertunjukan saat Gatotkaca memperoleh kesaktian tersebut berhasil memukau penonton.
Lakon ini sekaligus menjadi pengingat akan relevansi nilai-nilai kepemimpinan pewayangan dalam konteks kehidupan modern saat ini.
Melalui pementasan ini, Ki Sigid Ariyanto berharap generasi muda dapat terus menggali nilai-nilai luhur yang tersimpan dalam seni tradisi wayang kulit, sekaligus menjadikannya sebagai refleksi moral dalam kehidupan berbangsa.*(Widi)*


