-->

Breaking news

News

Baca di Helo

Friday, March 25, 2022

Pengamat komunikasi politik Univetsitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga, dok. istimewa/ Presiden Jokowi sebetulnya tak perlu marah, apalagi menyindir menterinya di depan umum, hanya untuk mereshuffle. Sebab, sebagai presiden tak baik bila menunjukan amarah dan memyindir pembantunya dihadapan rakyatnya, (26/3).


Jakarta - Pengamat komunikasi politik Univetsitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampaknya akan segera melakukan reshuffle.



Indikasinya, ia mulai jengkel dan menyindir Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin soal impor, termasuk Menteri BUMN Erick Thohir.


"Jokowi sebetulnya tak perlu marah, apalagi menyindir menterinya di depan umum, hanya untuk mereshuffle. Sebab, sebagai presiden tak baik bila menunjukan amarah dan memyindir pembantunya dihadapan rakyatnya," kata Jamil.


Sebagai pemimpin, lanjut Jamil, seharusnya Jokowi mampu mengendalikan amarah di depan umum. Pemimpin yang tak mampu mengendalikan amarahnya akan menurunkan wibawanya sendirinya.


"Apalagi soal reshuffle, itu menjadi hak prerogatif presiden. Karena itu, tak sepatutnya amarah dan menyindir pembantunya dikaitkan dengan reshuffle," sindirnya.


Jamil menjelaskan kalau presiden menilai kinerja pembantunya rendah, maka langsung saja reshuffle tanpa melakukan drama hingga mempermalukannya di depan umum. Dengan begitu, presiden mengangkat menteri dengan baik dan memberhentikannya juga dengan cara baik.


"Lagi pula, kalau reshuffle terlalu sering, orang akan bertanya, yang salah presidennya atau menterinya. Karena bisa saja  seleksi menteri yang tidak ketat, sehingga kualitasnya memang tak layak menjadi menteri. Kalau ini yang terjadi, tentu yang salah bukan sang menteri, tapi justru yang memilihnya," tegasnya.


Tapi ada juga kemungkinan, kualitas menteri cukup handal. Hanya saja arahan terhadapnya yang tak jelas, sehingga sang menteri tak dapat bekerja maksimal. (de/*)